Contoh Surat Pledoii (Hasil Tugas Kuliah)

nnaaaahhh,,kalok yang ini tentang surat pleidoii atau nota pembelaan,,
eits,inget yah,,bukan playboy,,tp pledoii,, *takutnya salah nyebutin* heuheu😀
monggo di copy paste kalo dibutuhkan,,
semoga bermanfaat😉

LAW FIRM
“WILDI MULYAWAN & ASSOCIATES”
S.K. Menteri Kehakiman No.A.2423-KP.05.12-98
Office: Bumi Abdi Praja Gang VB No.123, Subang – 41251 INDONESIA
Phone: (0260) 418999

“UNTUK KEADILAN”

PEMBELAAN
(PLEIDOII)

Dalam perkara pidana atas nama terdakwa :

a. Nama lengkap : Seniman
Tempat lahir : Subang
Umur/tanggal lahir : 40 tahun/11 Januari 1971
Jenis kelamin : Laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
Tempat tinggal : Desa Bangun, Kabupaten Subang
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta (Pedagang Kambing)

b. Didakwa melanggar :
Primer : Pasal 338 KUHP
Subsider : Pasal 351 KUHP ayat (3) KUHP
Lebih Subsider : Pasal 359 KUHP

Tuntutan dibacakan pada tanggal : 22 Mei 2011
Pembelaan dibacakan pada tanggal :

dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Subang.

PENDAHULUAN
Sidang yang dimuliakan,
Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Hukum yang kami hormati,
Hadirin yang kami kasihi,

Pada saat ini adalah kesempatan bagi kami Tim Penasehat Hukum untuk menyampaikan pembelaanbagi terdakwa.

Sebelum menginjak materi pembelaan, kiranya tidak berlebihan apabila kami mengucapkan terima kasih kepada Majelis Hakim yang telah dengan cermat melakukan pemeriksaan dalam perkara ini, sehingga akan diketahui dengan gamblang pula duduk perkara yang sebenarnya yang akan membawa ke gerbang keadilan yang sejati.

Demikian pula kepada Jaksa Penuntut Umum yang dengan semangat mengajukan perkara ini serta melakukan penuntutan umtuk keadilan, patut kami ucapkan terima kasih.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Kami percaya bahwa Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum maupun kami para Penasihat Hukum sangat mencintai profesinya, akan tetapi pasti tidak memusuhi ketentraman dan kebahagiaan masyarakat. Terdakwa yang merupakan anggota masyarakat, sebagaimana kita, juga mencintai akan ketentraman dan kebahagiaan. Oleh karena itu, terdakwa pun serasa dengan kita, paling tidak dalam kehendak menikmati ketentraman dan kedamaian tersebut.

Kiranya kita semua dalam persidangan ini telah memahami tugas dan posisi kita masing-masing dalam menegakan hukum dan keadilan. Sebagaimana diungkapkan oleh prof. Mr.Trapman dalam “juristen congress” yang antara lain disebutkan bahwa posisi penasihat hukum adalah : “subjectieve beoordeling van een objectieve positie”, maka sekalipun dalam hal ini tim penasihat hukum berada pada pihak terdakwa dalam rangka membela hak dan kepentingannya, namun kami akan berusaha seoptimal mungkin (bersama-sama dengan aparat penegak hukum yang lain) untuk mencari dan mengungkap kebenaraan materiil untuk menegakkan hukum dalam arti luas.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Kita harus sependapat bahwa sebelum adanya proses acara pidana, tentunya seseorang itu harus nyata melakukan perbuatan yang melanggar suatu perbuatan hukum pidana.
Mudah-mudahan dalam proses perkara ini, kita bersama-sama menyadari dan memahami
Bahwa kebenaran sejati yang harus kita cari.

FAKTA-FAKTA PERSIDANGAN

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Mengingat bahwa fakta dalam persidangan telah dicatat dalam Berita Acara Sidang, yang tentunya telah lengkap, maka kami beranggapan bahwa fakta-fakta dalam persidangan tidak perlu kami ketengahkan secara terperinci dan tersendiri disini.
Hal ini dengan maksud untuk menghindari pengulangan yang tidak efektif. Oleh karena ini berita acara persidangan yang telah dibuat oleh saudara Panitera Pengganti sepanjang mengenai fakta-fakta yang terungkap di persidangan adalah merupakan bagian dari pledoii/pembelaan ini dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

ANALISIS YURIDIS

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Terdakwa dihadapkan ke persidangan ini dengan dakwaan primer melakukan perbuatan pembunuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 338 KUHP, dakwaan subsider melakukan perbuatan penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang sebagaimana diatur dalam Pasal 351 ayat (3) KUHP, dan dakwaan lebih subsider melakukan perbuatan yang menyebabkan seseorang mati atau luka karena kekhilafan sebagaimana diatur dalam Pasal 359 KUHP.

Bahwa menurut hemat dan keyakinan Jaksa Penuntut Umum, dakwaan primerlah yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh diperoleh di persidangan.

Bahwa untuk membuktikan perbuatan terdakwa benar memenuhi dakwaan tersebut harus diketahui unsur-unsur dari pasal yang didakwakan, dan juga apakah seluruh unsur dari pasal yang didakwakan tersebut dipenuhi oleh perbuatan terdakwa.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Bahwa dalam dakwaan primer, terdakwa didakwa melanggar Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan biasa, yang berbunyi sebagai berikut,

“Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang, karena pembunuhan biasa, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima belas tahun”

Pasal 338 KUHP mempunyai unsur-unsur:
1. Barang siapa;
2. Dengan sengaja;
3. Menghilangkan nyawa orang;
4. Karena pembunuhan biasa.

ad 1. Unsur barangsiapa
Yang dimaksud dengan kata “barangsiapa” di sini adalah siapa saja yang menjadi subjek hukum yaitu sebagai pembawa hak dan kewajiban atau siapa pelaku dari perbuatan pidana yang dilakukan, yang dalam hal ini tidak lain adalah terdakwa Seniman, sehingga unsur ke-1 dakwaan primer telah terpenuhi.

ad 2. Unsur dengan sengaja
Yang dimaksud pada kata dengan sengaja adalah timbul maksud dan tidak dipikir-pikir lebih lama merebut atau mengambil hak nyawa orang lain. Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi bahwa pada saat terdakwa menghampiri korban, korban langsung mencabut golok dan menyerang terdakwa Seniman secara membabi buta. Sehingga dalam hal ini unsur kesengajaan tidak terdapat dalam perbuatan terdakwa Seniman, melainkan melekat pada korban Simalama. Dengan demikian unsur ke-2 dakwaan primer tidak terpenuhi.

ad 3. Unsur menghilangkan nyawa orang
Menghilangkan nyawa orang lain yang dimaksudkan disini yaitu terdakwa menusuk bagian tubuh korban antara dada sampai perut yang masih merupakan bagina tubuh korban hingga mengakibatkan korban meninggal dunia disebabkan karena kehabisan darah. Sehingga dengan demikian unsur ke-3 dakwaan primer telah terpenuhi.

ad 4. Karena pembunuhan biasa
Yang dimaksud dengan pembunuhan biasa apabila pelaksanaanya diikuti, disertai atau didahului dengan peristiwa pidana yang lain, sedang tujuan pembunuhan itu untuk menyiapkan atau memudahkan peristiwa tersebut atau apabila tertangkap tangan untuk melindungi diri daripada hukuman atau untuk mempertahankan yang diperolehnya dengan lawan hukum itu. Dengan demikian unsur ke-4 dakwaan primer tidak terpenuhi.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Karena ada beberapa unsur Pasal 338 KUHP yang didakwakan pada terdakwa yaitu unsur ke-2 dan ke-4 tidak terpenuhi, maka kami mohon kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari dakwaan primer.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Bahwa dalam dakwaan subsider, terdakwa didakwa melanggar Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang melakukan perbuatan penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang, yang berbunyi sebagai berikut,

“Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya orang, maka yang bersalah dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun”

Pasal 351 ayat (3) KUHP mempunyai unsur-unsur:
1. Perbuatan penganiayaan;
2. Mengakibatkan matinya orang.

ad 1. Unsur Perbuatan penganiayaan
Menurut yurisprudensi, arti penganiayaan ialah perbuatan dengan sengaja yang menimbulkan rasa tidak enak, rasa sakit atau luka, yang merusak kesehatan orang lain. Semuanya ini dilakukan dengan sengaja dan tidak dengan maksud yang pantas atau perbuatan yang melewati batas yang diizinkan. Yang dimaksud dengan kata dengan sengaja disini adalah bahwa perbuatan itu sengaja dilakukan oleh terdakwa dan diketahui oleh terdakwa. Namun pada kenyataannya bahwa terdakwa saat terjadinya perkelahian dan mengakibatkan terdakwa harus menusuk korban adalah dilakukan dengan tidak sengaja karena ingin membela diri dan kejadian tersebut berada di luar kendali terdakwa. Maka dengan demikian unsur ke-1 dakwaan subsider tidak terpenuhi.

ad 2. Unsur mengakibatkan matinya orang
Yang dimaksud dengan kata mengakibatkan matinya orang disini adalah bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa menyebabkan matinya orang lain. Faktanya adalah bahwa penusukan yang dilakukan oleh terdakwa terhadap bagian tubuh korban antara dada sampai perut mengakibatkan korban meninggal dunia karena kehabisan darah. Dengan demikian unsur ke-2 dakwaan subsider telah terpenuhi.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Karena unsur ke-1 dalam Pasal 351 ayat (3) KUHP yang didakwakan pada terdakwa yaitu tidak terpenuhi, maka kami mohon kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari dakwaan subsider.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Bahwa dalam dakwaan lebih subsider, terdakwa didakwa melanggar Pasal 359 KUHP tentang melakukan perbuatan penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang, yang berbunyi sebagai berikut,

“Barang siapa karena kekhilafannya menyebabkan orang mati dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, atau pidana kurungan selama-lamanya satu tahun”

Pasal 359 KUHP mempunyai unsur-unsur:
1. Barang siapa;
2. Karena kekhilafannya;
3. Menyebabkan orang mati.

ad 1. Unsur barang siapa
Yang dimaksud dengan kata “barangsiapa” di sini adalah siapa saja yang menjadi subjek hukum yaitu sebagai pembawa hak dan kewajiban atau siapa pelaku dari perbuatan pidana yang dilakukan, yang dalam hal ini tidak lain adalah terdakwa Seniman, sehingga unsur ke-1 dakwaan lebih subsider telah terpenuhi.

ad 2. Unsur karena kekhilafannya
Bahwa berdasarkan fakta menunjukkan ketika terdakwa melakukan penusukan terhadap bagian tubuh korban antara dada sampai perut, terdaka tidak mengetahui apakah korban meninggal dunia atau tidak. Dengan demikian tidak ada penghati-hatian dari terdakwa ketika melakukan penusukan tersebut dan terdakwa sendiri tidak mengetahui akibat dari perbuatannya tersebut sehingga dapat dikategorikan sebagai suatu kealpaan atau kelalaian. Dengan demikian unsur ke-2 dakwaan lebih subsider tidak terpenuhi.

ad 3. Menyebabkan orang mati
Yang dimaksud dengan kata menyebabkan matinya orang disini adalah bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa menyebabkan matinya orang lain. Faktanya adalah bahwa penusukan yang dilakukan oleh terdakwa terhadap bagian tubuh korban antara dada sampai perut mengakibatkan korban meninggal dunia karena kehabisan darah. Dengan demikian unsur ke-3 dakwaan lebih subsider telah terpenuhi.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Karena unsur ke-2 dalam Pasal 359 KUHP yang didakwakan pada terdakwa yaitu tidak terpenuhi, maka kami mohon kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari dakwaan lebih subsider.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Bahwa setelah memperhatikan dengan seksama seluruh rangkaian persidangan, terutama yang berkaitan dengan pemeriksaan para saksi dan terdakwa sendiri, kami Tim Penasihat Hukum secara objektif dan jujur harus mengakui bahwa semua dakwaan yang didakwakan kepada terdakwa baik itu dakwaan primer, subsider, ataupun lebih subsider adalah tidak tepat.

Bahwa menurut pandangan dan asumsi Tim Penasihat Hukum pengenaan dakwaan yang tepat terhadap tindak pidana yang dituduh kepada terdakwa tersebut adalah Pasal 49 ayat (1) KUHP. Hal ini dikarenakan perbuatan yang dilakukan terdakwa dimaksudkan untuk membela diri atas serangan membabi buta yang dilakukan korban Simalama dengan menggunakan goloknya yang pada saat itu keadaan atau kondisi terdakwa sedang dalam keadaan darurat dan terancam. Terlebih lagi pada saat sebelumnya, korban Simalama berteriak “kubunuh kau” sambil menyerang terdakwa, sehingga membuat terdakwa takut dirinya akan dibunuh oleh korban yang mempunyai niat untuk membunuh dirinya. Padahal kedatangan seniman menghampiri korban di kedai kopi adalah berniat baik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara kedua anak mereka, namun korban tidak menyambut baik dan malah menyerang terdakwa terlebih dulu.

Bahwa dalam Pasal 49 ayat (1) KUHP tentang melakukan tindak pidana demi pembelaan diri yang dikenakan kepada Terdakwa adalah berbunyi sebagai berikut:

“Orang yang melakukan tindak pidana, yang terpaksa dikerjakannya untuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain, atau mempertahankan perikesopanan atau harta benda kepunyaannya sendiri atau kepunyaan orang lain, daripada serangan yang melawan hak dan mengancam pada ketika itu juga, maka itu tidak dapat dipidana”

Pasal 49 ayat (1) KUHP mempunyai unsur-unsur:
1. Orang yang melakukan tindak pidana;
2. Terpaksa dikerjakannya untuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain;
3. Mempertahankan perikesopanan atau harta benda kepunyaannya sendiri atau kepunyaan orang lain;
4. Dari serangan yang melawan hak dan mengancam pada ketika itu juga.

ad 1. Orang yang melakukan tindak pidana
Yang dimaksud dengan orang yang melakukan tindak pidana disini adalah Terdakwa Seniman. Karena dari awal pembacaan dakwaan hingga pleidoii ini dibuat, orang yang dimaksud dan disebut-sebut sebagai terdakwa dalam kasus ini adalah Seniman. Dengan demikian unsur ke-1 telah terpenuhi.

ad 2. Terpaksa dikerjakannya untuk mempertahankan dirinya atau diri orang lain
Bahwa tindakan yang dilakukan oleh terdakwa Seniman itu adalah benar-benar terpaksa untuk mempertahankan (membela) diri. Pertahanan atau pembelaan ini dilakukan karena tidak ada jalan lain untuk menghindarkan diri Terdakwa dari serangan membabi buta korban Simalama yang terus menyabetkan goloknya ke hadapan terdakwa. Dengan demikian unsur ke-2 telah terpenuhi.

ad 3. Mempertahankan perikesopanan atau harta benda kepunyaannya sendiri atau kepunyaan orang lain
Yang dimaksud dalam hal ini adalah pertahanan terhadap kepentingan-kepentingan diri sendiri atau orang lain, peri kesopanan dan harta benda kepunyaan sendiri atau kepunyaan orang lain. Diri ialah tubuh terdakwa, perikesopanan berarti kehormatan di bidang seksuil yang bisa diserang oleh pihak lain terhadap dirinya. Dengan adanya serangan yang membabi buta dari korban Simalama, bisa saja apabila terdakwa tidak melakukan pertahanan diri, sabetan golok tersebut bisa mengenai tubuh terdakwa atau orang lain disekitar tempat kejadian yang dapat mengakibatkan terdakwa atau orang lain luka bahkan cacat. Dengan demikian unsur ke-3 telah terpenuhi.

ad 4. Dari serangan yang melawan hak dan mengancam pada ketika itu juga
Bahwa yang dimaksud dengan serangan yang melawan hak dan ancaman yang mendadak pada saat itu juga adalah pada saat situasi terdakwa menghampiri korban Simalama di sebuah kedai untuk berniat baik menanggung biaya pengobatan Sijumpa anak dari korban Simalama, korban Simalama ketika melihat terdakwa tiba-tiba langsung mencabut golok dan menyerang terdakwa sambil berteriak “kubunuh kau”. Serangan yang mendadak tersebut disertai dengan ancaman senjata tajam berupa golok yang disabetkan kepada diri terdakwa. Dengan demikian unsur ke-4 telah terpenuhi.

ASPEK PEMIDANAAN

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Kini sampailah materi pembelaan ini pada pertimbangan penjatuhan sanksi pidana. Hal ini perlu kami sampaikan untuk mengkaji apakah tuntutan penjatuhan sanksi pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum dalam Requisitoirnya telah tepat dalam arti mengandung dasar pertimbangan yang rasional dan manusiawi sesuai dengan tujuan pemidanaan.

Bahwa arah pengembangan kebijakan hukum pidana (penal policy) telah berpijak pada “asas keseimbangan mono-dualistik” (daad-dader strafrecht). Oleh sebab itu, kami berharap agar Majelis Hakim dalam mempertimbangkan putusan untuk terdakwa nantinya tidak hanya semata-mata memperhatikan segi objektif dari perbuatan (daad) yakni, dengan mempertahankan asas legalitas (asas kemasyarakatan) saja, namun juga mempertimbangkan segi-segi subjektif dari orang/pelaku (dader) yakni, dengan mengangkat asas culpabilitas (asas kemanusiaan). Selanjutnya guna mewujudkan pemidanaan yang tepat dan bersifat manusiawi tanpa megabaikan tujuan pemidanaan yakni resosialisasi pelaku, perlindungan masyarakat dan pengurangan kejahatan, perlu adanya langkah “individualisasi pidana” yang artinya pidana hendaknya dilakukan secara selektif dan limitative dengan memperhatikan karakteristik dan kondisi yang menyertai pelaku (asas personal).

Bahwa berdasarkan pemikiran tersebut, Tim Penasihat Hukum memandang bahwa dakwaan Jaksa Penuntut Umum yaitu menghukum Terdakwa Seniman dengan pidana penjara 12 (dua belas) tahun adalah tidak tepat.

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Perlu kami kemukakan disini bahwa Terdakwa Seniman selama ini dikenal sebagai warga yang baik dan berada dalam lingkungan keluarga yang baik. Menurut pengamatan kami sebagai Tim Penasihat Hukum, terdakwa adalah seorang bapak rumah tangga yang baik yang dapat mengayomi keluarga dengan baik dan membina rumah tangga yang baik sehingga menjadi tauladan bagi anak-anak dan saudara-saudaranya yang lain. Kami mohon kepada Majelis Hakim agar mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas dalam memutus perkara ini nanti.

Bahwa sekalipun tindakan terdakwa Seniman berada di luar kendali sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia, namun sebelum menjatuhkan putusan, sepatutnyalah kita melihat pula hal-hal yang meringankan terdakwa, yaitu:
– Bahwa setelah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, terdakwa menyerahkan diri tanpa dilakukan penangkapan sebelumnya dan selama pemeriksaan terdakwa kooperatif;
– Terdakwa berlaku sopan dipersidangan;
– Terdakwa belum pernah dihukum karena tindak pidana.

KESIMPULAN DAN PERMOHONAN

Majelis Hakim yang terhormat,
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati,

Kami Penasihat Hukum Terdakwa Seniman telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan pembahasan secara objektif terhadap proses persidangan atas diri terdakwa, akan tetapi hasilnya telah menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
– Bahwa dakwaan primer, yang menyatakan bahwa terdakwa telah dengan sengaja menghilangkan nyawa orang sebagaimana diatur dalam Pasal 338 KUHP, dakwan subsider yang menyatakan bahwa terdakwa telah melakukan penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang sebagaimana diatur dalam Pasal 351 ayat (3) KUHP, serta dakwaan lebih subsider yang menyatakan bahwa terdakwa khilaf sehingga mengakibatkan matinya orang sebagaimana diatur dalam Pasal 359 KUHP yang didakwakan kepada terdakwa TIDAK DAPAT DIBUKTIKAN secara sah dan meyakinkan menurut hukum.
– Bahwa secara objektif harus diakui bahwa semua dakwaan yang didakwakan kepada terdakwa adalah tidak tepat, dan yang lebih tepat adalah Pasal 49 ayat (1) KUHP yang menyatakan bahwa terdakwa melakukan hal tersebut dikarenakan untuk mempertahankan diri. Dengan demikian ada beberapa catatan sesuai dalam fakta yang terungkap di persidangan yang bersifat meringankan terdakwa.

Kami percaya akan sikap arif dan bijaksana Majelis Hakim yang hambeg adil paramarta dalam mempertimbangkan putusannnya. Oleh sebab itu, perkenankanlah kami selaku Penasihat Hukum untuk hak dan kepentingan Terdakwa mengajukan permohonan sebagai berikut:
– Mohon agar Majelis Hakim MEMBEBASKAN Terdakwa Seniman dari segala dakwaan yaitu dakwaan PRIMER: Pasal 338 KUHP, dakwaan SUBSIDER: pasal 351 ayat (3) KUHP, serta dakwaan LEBIH SUBSIDER: Pasal 359 KUHP, karena tidak terbukti melakukan tindak pidana tersebut secara sah dan meyakinkan.
– Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon agar Terdakwa diputus seadil-adilnya.

Selanjutnya kami serahkan sepenuhnya nasib dan masa depan Terdakwa kepada Majelis Hakim karena Majelis Hakimlah yang dapat menentukannya.

Akhirnya, rasa terima kasih kami ucapkan kepada Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum yang telah dengan niat baik memperhatikan Pleidoii ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan Rahmat-Nya kepada kita semua yang telah mengupayakan tegaknya hukum dan keadilan sejati dalam perkara ini.

Subang, 29 Mei 2011

Hormat Kami,
Tim Penasihat Hukum Terdakwa,

1. Wildi Mulyawan, SH, MH.

2. Dina Berliana Mustika, SH.

3. Robby Nugraha, SH.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: