Kebudayaan Kampung Naga dan Orang Rembong di Florest Barat

A.      Latar Belakang

Fungsi adat dan kebudayaan pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi, pemersatu, dan jati diri. Oleh karena itu, adat dan kebudayaan menjadi acuan atau pedoman bagi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan antarsesama warga masyarakat sehingga akan berpengaruh terhadap pengetahuan, pembentukan sikap, kepercayaan, dan perilaku anggota masyarakat yang bersangkutan.

Pada masa sekarang, ketika kontak budaya semakin meningkat dan intensif, banyak sekali terjadi pergeseran dan perubahan dalam kehidupan masyarakat, terutama tampak sekali pada sikap dan perilaku di kalangan generasi muda. Perhatian khusus bagi generasi muda merupakan hal yang menarik karena mereka adalah penerus dan pendukung kebudayaan yang ada sekarang ini.

Perubahan pandangan, pengetahuan, sikap, dan tingkah laku pada diri mereka akan akan berdampak besar terhadap corak dan nuansa kebudayaan di masa depan. Padahal di sisi lain, mereka itu sangat mudah dipengaruhi oleh unsur kebudayaan baru/asing di luar kebudayaan yang dikenalnya. Oelh karena itu, dirasa perlu untuk melakukan suatu tindakan, utamanya dalam bentuk kampanye/pengenalan, supaya mereka mengenal kebudayaan yang hidup dan berkembang di lingkungannya. Pengenalan tersebut pada gilirannya akan bermuara pada upaya untuk mencintai kebudayaan sendiri, sehingga adapt dan kebudayaan yang ditumbuhkembangkan tidak lepas dari akarnya.

Sebagai upaya agar memiliki keinginan dan bisa memahami perbedaan adat dan budaya, mereka harus diperkenalkan pada aspek-aspek kebudayaan dari luar lingkup kebudayaannya sendiri. Upaya tersebut diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit dan meningkatkan pemahaman bahwa budaya yang ditumubuhkembangkan masing-masing etnik merupakan jati diri etnik yang bersangkutan.


Hampir setiap kawasan di Indonesia mempunyai perbedaan kebudayaan dengan kawasan lainnya. Tradisi yang sangat kontras membuat negara kesatuan Republik Indonesia dikenal dengan keanekaragaman budayanya. Untuk itu, analisa mengenai kebudayaan-kebudayaan yang berkembang di beberapa kawasan yang berbeda sangat dibutuhkan, agar dapat terlihat dimana letak perbedaannya. Salah satu kebudayaan yang dibahas dalam penyusunan makalah ini adalah tradisi yang dipelihara dengan baik oleh suatu warga di daerah Jawa Barat, tepatnya Tasikmalaya yaitu di Kampung Naga dan adat istiadat orang Rembong di Flores Barat.

 

B.      Upacara Hajat Sasih di Kampung Naga

B.1.     Sekilas Kampung Naga

Kampung Naga terdapat di desa Neglasari, Kecamatan Salawu, kabupaten Tasikmalaya. Kampung Naga berada di tengah-tengah antara kabupaten Tasikmalaya dan kabupaten Garut. Di sebelah timur kampung Naga dibatasi dengan sungai Ciwulan, di sebelah barat dibatasi dengan bukit-bukit kecil, di sebelah selatan dan di utara dibatasi oleh saluran air kecil atau pasit.

Jumlah penduduk di kampung Naga mencapai 311 jiwa dari 104 kepala keluarga. Bangunan yang berdiri berjumlah 111 bangunan. Pekerjaan pokok masyarakat kampung Naga adalah bertani dan agamanya Islam. Pendidikan masyarakat kampung Naga adalah mayoritas SD.

Kampung Naga memiliki 2 lembaga kepemimpinan. Yang pertama adalah lembaga informasi yaitu Kuncen, Punduh, dan Lebe. Lalu yang kedua yaitu lembaga formal yang berupa RT,RW, dan Kepala Desa.

 

B.2.     Nama Upacara

Salah satu upacara adat yang rutin dilaksanakan di kampung Naga adalah Hajat Sasih. Hajat yang berarti syukuran dan Sasih yang berarti bulan. Jadi secara harfiah, hajat sasih adalah bulannya syukuran. Menurut narasumber, hajat sasih merupakan upacara adat sebagai rasa syukur masyarakagt setempat di dalam menyambut hari-hari besar agama Islam.

 

B.3.     Latar Belakang Sejarah Upacara dan Tujuan Upacara

Upacara hajat sasih dilaksanakan sejak dahulu atay sejak zaman nenek moyang. Masyarakat kampung Naga selalu melaksanakan hajat sasih dengan latar belakang untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT dalam segala hal. Upacara hajat sasih dilaksanakan 6 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Muharram, bulan Maulud Nabi, Jumadil Akhir, Syawal, Nisfu Sa’ban, dan Rayagung. Upacara tersebut pertama kali dilaksanakan di masjid dan dan pemimpin upacara tersebut adalah kuncen, tetapi jika kuncen tidak bisa atau sedang sakit bisa diwakilkan kepada wakilnya atau keturunannya tetapi harus seorang laki-laki, tidak boleh perempuan.

Pelaksanaan upacara hajat sasih dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah dan tidak boleh berubah. Pelaksanaan upacara hajat sasih dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dengan cara generasi baru melihat contoh dari pelaksana upacara terdahulu.

Adapun tujuan upacara hajat sasih yaitu:

1) Syukuran

2) Mengharap keberkahan dan keselamatan’

3) Mendoakan para sesepuh yang sudah meninggal

4) Sebagai tolak bala

 

B.4.     Waktu dan Tempat Penyelenggaraan Upacara

Upacara hajat sasih selalu dilaksanakan bertepatan dengan hari raya besar Islam, seperti hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dll. Upacara hajat sasih selalu dilaksanakan bertepatan dengan hari raya dikarenakan apabila bertepatan dengan hari raya akan terasa lebih terserap makna dari hari raya tersebut.

Upacara hajat sasih dilaksanakan di berbagai tempat yang khusus. Pertama, tempat yang dituju adalah sungai ciwulan yang dipakai masyarakat untuk membersihkan diri atau bersuci. Caranya dengan mandi dan berwudhu di sungai ciwulan, lalu seluruh masyarakatt kampung Naga pergi menuju masjid. Masjid dipilih karena tempat yang paling baik dan dapat menampung seluruh masyarakat. Di masjid, masyarakat kampung Naga mengadakan syukuran dan doa. Kuncen, punduh, dan lebe memisahkan diri di Bumi Ageung, lalu pergi menuju makam keramat.

 

B.5.     Teknis Penyelenggaraan Upacara

Semua warga kampung Naga terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara hajat sasih, mulai dari persiapan hingga akhir upacara. Yang tidak boleh mengikuti pelaksanaan upacara adalah wanita yang sedang haid. Yang memimpin upacara hajat sasih adalah kuncen, karena hanya kuncen yang tahu tata cara pelaksanaan hajat sasih yang paling benar. Kuncen dipilih berdasarkan dari keturunan kuncen. Jika kuncen berhalangan datang dalam pelaksanaan upacara hajat sasih maka yang menggantikan adalah saudara laki-laki yang ditunjuk oleh kuncen.

 

B.6.     Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Persiapan dan perlengkapan upacara hajat sasih di kampung Naga ini dilaksanakan dan dipersiapkan oelh seluruh warga kampung Naga secara bergotong-royong beberapa hari sebelum dilaksanakannya upacara adat. Dalam upacara adt ini dilakukan banyak persiapan, salah satunya adalah hajat sasih. Setiap warga kampung Naga diharuskan melakukan ritual penyucian diri dengan mandi di sungai ciwulan tanpa terkecuali. Setelah itu, warga kampung Naga berkumpul di masjid dengan membawa makanan masing-masing sesuai dengan apa yang dipersiapkan.

Upacara dimulai dengan membaca doa yang sarat dengan syariat Islam. Dengan posisi duduk mengelilingi bagian dalam masjid, mereka berdoa dan membaca kalimat bacaan tertentu dipimpin oleh seorang kuncen. Selesai berdoa bersama, mereka mendatangi makam keramat di perbukitan kecil sebelah barat pedesaan. Mereka menikmati makanan yang disediakan dan dihidangkan di tengah ruangan masjid.

 

B.7.     Pantangan-pantangan

Pantangan-pantangan dalam proses upacara hajat sasih adalah:

  1. Yang melaksanakan prosesi harus laki-laki, dikarenakan bagi para wanita bisa saja sedang mengalami datang bulan. Salah satu syarat hajat sasih harus bersih badan, hati, pikiran, dan segala macam peralatan yang digunakan.
  2. Semua pria sebelum melaksanakan prosesi harus mandi bersama di sungai ciwulan dan beberapa hari sebelumnya melaksanakan puasa selama setengah hari.
  3. Proses hajat sasih diharuskan dilaksanakan pada hari-hari selain haru selasa, rabu, dan sabtu.

 

C. Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat

C.1.     Pesta Pui-Bezak atau Pesta Tokeq atau Pesta Bari Manuk

Setelah diadakan pembakaran beberapa padang, para petani kembali giat dengan pekerjaan masing-masing. Saat ini menginjak pertengahan bulan Agustus. Dalam waktu-waktu itu para pemuka masyarakat bersama Ketua Adat merencanakan pesta adat yang disebut Pui Bazak. Biasa disebut juga Wono Tokeq atau Bari Manuk. Pesta Pui Bezak ini diadakan dengan maksud tertentu. Segala pekerjaaan yang telah dilakukan selama setahun lalu, pada pesta itu dibersihkan, agar semua daki dan kotoran dan miang-miang dihapus sama sekali, juga meninggalkan tahun lama, guna menyongsong tahun baru, hal ini dipandang dari segi berladang. Jadi, tahun yang dimaksud orang tua-tua dahulu adalah seperti yang diuraikan tadi. Dapat pula diartikan, Pesta Tahun Baru pada zaman sekarang. Pesta yang diadakan untuk memulai pengerjaan kebun yang baru.

Dalam musyawarah mengenai pesta itu, akan dipastikan hari pelaksanaanya. Ini merupakan pesta adat yang terakhir dalam setahun genap, didalam sebuah kampong. Pesta ini diadakan pula untuk mensyukuri segala perolehan hasil dan rezeki, serta kesehatan jasmani dan rohani pada tahun silam. Tujuan lain yaitu bersyukur dan berterima kasih kepada arwah nenek moyang dan Roh pembawa rezeki, yang telah mengabulkan permohonan mereka. Semua warga dalam kampung bersyukur secara bersama dan serentak dalam satu hari,yang telah disepakati bersama pula.

Bila pesta itu sudah disepakati, kira-kira tiga atau empat hari sebelum dilangsungkan pesta, misalnya, menumbuk padi, singkatnya, menyiapkan bernagai keperluan yang dibutuhkan didalam pesta. Tidak ketinggalan mereka mengutus salah seorang darim keluarga mereka, untuk memberitahu dan mengundang sanak saudara serta keluarga terdekat lainnya, guna bersama-sama mengikut pesta. Demikian juga warga kampung disekitar maupun yang jauh, pasti mendengar berita adanya pesta yang dimaksud, yang diberitakan dari mulut ke mulut.

Tiba waktu yang ditentukan untuk memulai pesta, beberapa orang dari tiap keluarga akan pergi ke hutan, guna memotong bambu untuk keperluan pembuatan nasi lemang. Sedangkan kaum wanita akan menyiapkan sayuran, misalnya, labu merah dan ketimun, kacang-kacangan, serta bari mas (gemuk babi yang diawet lama) demi keperluan pesta Tokeq, para keluaraga dari jauh yang diundang, misalnya, paman dan bibi, ibu-bapa, saudari dan ipar berduyun-duyun datang. Mereka membawa oleh-oleh kelapa dan ayam, parang atau keris; ada pula yang membawa beras, cincin dan manik-manik, serta gelang dengan hubungan adat Wina-wai Rana-Laki masing-masing.

Pada malam hari akan diadakan pesta Pui Bezak, diawali dengan persembahan ayam, yang merupakan  bagian pesta Puik Bezak, dan dilakukan disetiap rumah secara bergilir. Persembahan itu bersamaan dengan dibunyikan gendang dan gong, diiringi lagu sonsoq dan lagu welaqng gendang. wanita dan pria bersama-sama melagukan nyayian itu dengan meriah. Selesai diadakan persembahan ayam ditiap-tiap rumah penduduk, terakhir diadakan upacara persembahan di rumah Ketua Adat, yang mendiami rumah gendang. Di setiap rumah pada malam itu, selalu disuguhkan makan dan minum. Sampai-sampai orang jemu menyantap makanan itu.

Terkadang, acara persembahan di dalam kampung belum selesai, muncullah orang-orang yang mempunyai family dan kerabat, langsung memasuki rumah, tetapi pendatang lain terus ke halaman kampung untuk memulai tandak, dasn ada pula beberapa pengunjung yang duduk-duduk sejenak di dekat batu persembahan kampung. Para pemina tandak datang berduyung-duyun pada malam itu, sehingga meramaikan suasana pesta. Warga kampung yang telah melesaikan acara persembahan, akan turun ke halaman untuk tandak bersama kepada dpengunjung. Terkadang pula para tuan pesta itu baru mau turun kehalaman untuk ramai-ramai bertandak, setelah mereka dikejutkan oleh lagu tandak yang menyindir. Bertandak pada malam itu cukup ramai, para penggemar tandak dapat membuat dua sampai tiga lingkaran. Pria dan wanita dalam tandak itu saling berbalas pantun dengan indah sekali. Perkataan dalam lagu tandak itu selalu bermakna pantun.

Para pengunjung pesta pada malam itu diundang untuk disuguhi minuman dan makanan, tidak dikesampingkan pula sekapur sirih disuguhkan. Para tamu dilayani secara bergilir menurut kampung asal, agar semua tamu yang datang dapat pelayanan yang layak. Mereka (yang ditugskan untuk melayani pengunjung), cukup menghubungi pemuka dari setiap kampung, agar si pemuka itu dapat mengetahui persis rekan-rekan yang datang ke pesta. Mereka yang menerima para pengunjung sudah di tegaskan jauh sebelumnya, oleh para pemuka kampung yang berpesta. Pengumpulan makanan dan minuman, sirih pinang dan tembakau, sudah dijalankan lebih awal pada siang hari. Disaat-saat para pengunjung dan warga kampung beramai-ramai bertandak, muncul seorang pemuka kampung, yakni Dor (ketua adat) yang memasuki arena tandak dengan maksud hendak menasehati para penggemar tandak, teramsuk warga dalam kampung. Tujuan petuah dan nesihat itu, supaya bertandak sebaik mungkin, manyanyi dengan baik, jangan sekali-kali menyindir atau mengeluarkan pentun yang mengundang dampak negatif; apabila para tamu kehilangan sesuatu, mohon disampaikan kepada Dortanaq dalam kampung. Disarankan pula kepada orang yang kebetulan memungut sesuatu, yang menjadi milik para pengunjung mohon dikembalikan, atau dapat pula di berikan melalui Dor. Melalui ketua adapt dalam kampung akan diumumkan, dan bila sudah jelas, akan diberikan kepada pemiliknya. Ketika dilangsung pengumumuan dan nasihat tadi, segala kegiatan tandak berhenti total dan semua tenang ditempat. Setelah Dor selesai memberikan wejangan, baru dilanjutkan tandak hingga pagi hari.

Ketika ayam mulai berkokok untuk pertama kali, kedua, dan ketiga, bermunculan para penggemar yang tadinya merasa kantuk, lalu meyadarkan diri sejenak pada pendopo rumah atau pada kemah yang khusus disediakan oleh tuan pesta bagi para pengunjung. Manusi bertambah banyak memasuki lingkaran tandak mendambah keramaian, karena sebenttar lagi akan bubar. Keramaian diadakan pada malam hari tidak khusus tandak tetapi juga Wono Betong, Ninggo dan Welaqng gendang pun demikian dimana situasi lebih meriah bila menginjak ayam mulai berkokok sedangkan para pengunjung selalu diberi jamuan, baik oleh keluarga atau familynya, maupun secara umum seperti dikemukakan di atas.

Pagi ketika cuaca mulai terang, baru tandak itu berhenti. Selanjutnya para penggemar dalam bermain cemeti mempersiapkan peralatanya. Para penggemar cemeti berdandan diluar halaman kampung. Ditempat itu beberapa orang segera menanggalkan pakaian, supaya mengenakan zonggok (penutup kepala), lado manuk, giring-giring besar yang diikat pada pinggang serta giring-giring kecil yang dikenakan pada kaki. Kemudian seseorang bertindak sebagai pimpinan rombongan sambil memegang cemeti, berarak ke halaman kampung. Sebelum melangkah, mereka bersama-sama memekik, “ya-ya-ya” dijawab, “uuu”, dan dilanjutkan dengan sebuah lagu. Mendengar lagu itu, mereka yang berada di dalam kampung segera bertandan seperti pengunjung, untuk menangkis mereka yang datang. Mereka yang datang dari luar halaman kampung segera memasuki halaman. Pada hari itu,diadakan permainan cemeti, sebagai bagian dari pesta Pui Bezak. Si pemimpin rombongan mengantar lagu, dan rekan-rekannya menjawab. Seorang warga dalam kampung yang telah siap berdandan itu, menari-nari menanti pukulan cemeti oleh pimpinan rombongan yang sedang memasuki halaman. Setelah dekat, si pemimpin rombongan mengambil ancang-ancang hendak mencemeti lawannya, kemudian pihak lawan yang menangkis pukulan, yakni dari rombongan itu. Sementara beberapa pasang pemain menari-nari ( dalam pelaratan itu ), rekan-rekannya ( yang berdiri  di luar secara berkelompok ) serempak menjawab nyanyian yang diantar ( para pemain melas ) yang diteruskan dengan permainan tandak untuk menyemarakkan suasana.

Lawan-lawan dari permainan cemeti itu ialah para penggemar yang berasal dari kampung jauh, berhadapan ( dengan penggemar ) dari kampung sekitar yang bergabung dengan warga yang berpesta. Apabila para peminat pemainan cemeti cukup banyak, maka dapat dibentuk dua jalur ( yakni dua pasang pemain saling beradu). Para pemain yang berjiwa seni, mulai menari-nari dan nmenyanyikan lagu-lagu indah ( sehingga menarik perhatian para penonton). Ada para penangkis yang menggunakkan cara simpaq ndareng (prisai dan agang merapat diwajah), yang lain memakai taqustolo (prisai dan agang jauh dari tubuh). Sedanngkan untuk mencemeti lawan, dapat dilakukan denggan tangan kiri maupun tangan kanan.

Dalam permainan cemeti pada zaman nenek moyang dahulu, sering digunakan obat-obatan berbahaya disertai magis. Penggunaan racun dan sihir dimaksud, pertama-tama, dennan membahayakan lawannya ia dikagumi dan disanjung oleh umum, kedua, untuk menjaga dan menangkis racun dan sihir dari pihak lawan. Konon pemain cemeti pada zaman dahulu, biarpun dicemeti lawan dengan ekor pari, maupun cemeti berujung tulang enau, sama sekali tidak mempan atau trmakan kedalam kulit tubuh, bila terkena cemeti ( apalagi sampai ) berdarahpun tidak. Hal itu menandakan, racun dan sihir yang digunakannya cukup angkuh.

Sedangkan bagi mereka yang tidak menggunakan ilmu sihir pengkebalan (terhadap cemeti), maka bila terkena cemeti dari kulit kerbau itu mengakibatkan punggung mereka menjadi bengkak membujur seperti ular. Bila salah seorang pemain menghendaki lawannya celaka, karena dia mempunyai ganjalan pribadi serta merasa sakit hati, tidak mustahil terjadi kematian mendadak bagi lawan yang terkena itu. ( misalnya, untuk yang bermusuhan sebelumnya dan dalam permainan itu berkesempatan utnuk membahayakan lawannya).

Pernah pula trjadi, orang yang terkena cemeti itu begitu sampai dirumah langsung sekarat dan mauutpun merenggutnya. Namun sempat diketahui adanya hal-hal yang unik yakni bila kena cemeti lawan (yang menggunakan obat-obatan dan sihir itu) terasa sakitnya mencurugakan, (orang tersebut) harus segera berhenti. Setelah itu dandanan dicopot, segera ia menuju lawan yang baru mencemetinya agar dia menyemburinya penawar sihir padanya. Dan hasilnya, luka atau bengkak akibat cemeti akan cepat hilang dan ia pun tak akan merasakan sakit yang ajaib itu.

Kesimpulannya, permainan cemeti yang dilakukan orang tua-tua pada zaman dahulu bukan sekedar hiburan ( melainkan adu magis dibalik itu). Pada masa kini permainan itu lebih bersifat seni budaya dibanding dulu. Sekarang banyak dari kaum muda yang ikut bermain cemeti, lebih khusus mencemeti bagian wajah lawan, menyanyi dengan suara merdu serta menari-nari dengan irama bagus. Pada masa orang-orang tua dulu, pertama sekali sedikit mementingkan lagu indah (pada umumnya syair lagu mengandung sindiran), menari-nari dalam irama bagus; ketiga, hendak  menunjukkan keunggulan memakai sihir dan obat-obatan yang membahhayakan. Dulu penggemarnya kebanyakan orang-orang tua.

Demikian supaya permainan cemeti pada zaman dahulu dengan mengadu magis di setiap kampung. Ada yang bermusuhan ( akibat tidak saling terkalahkan), bila mainan itu berlangsung di berbagai kampung, maka musuh bebuyutan itu dipertemukan. Hal itu membuat penonton sekitar berdebar-debar dan mengassyikkan pula. Generasi penerus kini pun sedikit memiliki magis bawaan namun tidak seperti dulu. Sudah terlalu jauh kita mengurai panjang lebar tentang permainan cemeti, sebaiknya kita tinjau kembali pesta toqe. Pada hari itu cukup ramai orang-orang bermain cemeti dan penonton pu demikian, sedangkan warga kampung sibuk membakar nasi lemang  ruas bamboo sebesar lengan yang dilakukan oleh setiap warga, guna dibagi-bagikan kepada para pengunjung pesta nantinya.

Disiang hari itu, para tamu disuguhi makanan dan minunan serta sekapur sirih. Ketika hari akan senja, maka permainan cemeti brtambah seru dan mendebarkan. Pada saat-saat itu, khusus orang-orang yang lihai memainkan cemeti dan menangkis pukulan. Setellah matahari hendak terbenam, maka tuan pesta yang diwaliki oleh Dor menghantar dulang sekapur sirih, dengan maksud menghentikan permainan itu. Selanjutnya ketua adapt membagikan nasi lemang kepada para tamu. Pembagian itu tidak perorangan, melainkan menurut asal kampung. Hingga disini cerita mengenai cerita permainan cemeti inilah yang lazim diadakan disetiap wono Toqek.

Setelah para tamu menerima nasi lemang, merekapuun kembali ke kampung masing-masing. Namun ada yang masih memasuki rumah-rumah keluarga untuk pamitan. Kalau ketika datang mereka membawa oleh-oleh kelapa dan ayam, berarti ketika akan berpamitan dengan sanak keluarga akan mendapat beras atau nasi bambu. Sebaliknya bagi anak/rana yang datang membawa oleh-oleh sebakul beras waktu pamitan diimbali dengan ayam dan kelapa atau berupa pisau parau, dan boleh berupa uang. Adat ini sudah membudaya sejak nenek moyang terdahulu hingga sekarang.

Ada lagi suatu tradisi khusus di dalam pesta-pesta sarung ini, misalnya pihak anakwina yang undang itu tidak sempat hadir, mak oleh-oleh tetap dihantar kerumah. Cara demikian disebut Penti-Perek. Tujuan harus menghantar oleh-oleh berupa beras dan sebagainya yang disebut penti Perek, agar bila penghantara berkepentingan di hari-hari mendatang maka mereka (pihak anak Wina) akan memberikan kemudahan (melayani permintaan anak-Prana). Kalau tidak diambil kebijakan demikian (oleh anak Rana) maka seautu terdesak (dalam hubungan adat) lalau pergi mengunjungi mereka sekalipun membawa serta oleh-oleh, mereka akan menjawab, “wah seru” ketika berlangsung pesta-pesta adat tidak pernah Penti-Perek, karena sekarang dalam keadaan terdesak baru muncul. (sering juga digunakan). Bila akan berhajat baru muncul, sedangkan pada saat-saat limpahan, sama sekali tidak menampakan muka. “nah, itulah makna dari istilah Penti-Perek.”

Sampai disini saja uraian mengenai Wono Tokeq, dalam arti meninggalkan tahun lama, untuk menyongsong tahun baru. Menyongsong tahun baru dimaksud dengan dimulai dengan pengerjaan kebun baru dengan berbagai kegiatan adatnya dan lain-lain. Kebudayaan ini dapat dilestarikan oleh generasi penerus sekarang, asal dapat dikembangkan lewat ilmu pengetahuan serta sejalan dengan agama. Sekian.

 

C.2.     Pesta Rotas Tetoq

Pesta Rotas Tetoq bertujuan menyembuhkan penyakit seseorang. Menurut penglihatan banyak dukun, bahwa semua orang yang hidup di bumi ini, di kepala mereka tumbuh kekara gatal. Makin tua, makin lebat tumbuhnya kekara itu. Apabila salah seorang lelaki tua ditimpa sakit berat, walau dirawat juga tidak sembuh-sembuh, banyak tetua menyarankan dia harus membuat upacara Rotas Tetoq sebagai satu-satunya jalan akhir yang ditempuh. Pesta Rotas Tetoq terkadang dianjurkan oleh dukun yang merawatnya. Jadi, hanya si dukun itu yang dapat mengetahui dan melihat kekara gatal yang tumbuh di atas kepala si pasien (mata-mata awam tentu tak dapat melihatnya). Mengenai benar dan tidaknya, entahlah. Semua itu masih kepercayaan. (Suatu hal yang perlu diperhatikan pula, bahwa Rotas Tetoq dapat dilaksanakan hanya oleh seorang kepala keluarga yang sudah tua dalam hubungannya dengan adat perkawinan. Sesungguhnya dia telah selesai menjalankan tingkat Bakok-Porak-Uma-Nozong atau disebut pula Alang-Kilo).

Pemulihan penyakit itu melalui persembahan seekor kuda. Berarti si pasien dibebankan oleh sang dukun, untuk menyediakan seekor kuda persembahan. Kalau kuda persembahan belum dimiliki, harus pergi mencarinya dengan membawa beberapa lembar kain hitam, atau dengan berutang beberapa ekor babi. Bila pesta sudah dekat dan kuda belum diperoleh, maka yang berkepentingan akan meminjamkan kuda milik orang lain, asalkan (ia sembuh dari) penyakit yang dideritanya.

Apabila segala kebutuhan pesta sudah tersedia, maka waktu pelaksanaan pun ditentukan. Sanak keluarga akan diundang, misalnya yang dianggap saudara dan ipar maupun anak cucu, supaya menghadiri pesta tersebut. Pasti sang dukun hadir pula pada upacara itu. Ketika tepat hari pelaksanaan yang telah ditentukan itu, semua yang diundang hadir untuk mengambil bagian-bagian dalam pesta itu. Kuda yang akan dipersembahkan telah ditambat pada tiang dekat mesbah, yang terletak di halaman kampung.

Pada hari itu, gendang-gun pun diturunkan dari tempat gantungannya. Penurunan gendang da gung dimaksud sebagai kelengkapan pesta, dimana gendang-gung dibunyikan setelah doa persembahan melalui ayam berakhir, dan setelah itu pula kuda disembelih. Doa yang diucapkan lewat persembahan ayam saat itu, dengan tujuan utama agar sakit dan penyakit yang diderita oleh sang pengampuh pesta akan hilang-lenyap, yaitu dengan menghilangkan tumbuhan kekara gatal di kepalanya.

Pada masa nenek moyang dahulu, melalui upacara Rotas Tetoq juga dapat disembuhkan penyakit (karena mereka benar-benar yakin). Oleh karena itu sering mereka laksanakan, sesuai kenyataan pada masa lalu. Masa sekarang orang hanya mengenal beberapa penyakit luar maupun dalam lewat pengobatan para medis seperti kanker, tumor, dan sebagainya. Upacara adat ibarat kata pepatah, “gatal di kaki, garuk di kepala”. Sekarang orang-orang (yang menderita sakit) lebih percaya pada obat-obatan dari mantra maupun para dokter, termasuk obat-obatan tradisional dari akar-akar kayu atau tumbuhan.

D.      Kesimpulan

Di zaman globalisasi yang sudah canggih dan modern ini ternyata masih banyak masyarakat yang berpegang teguh dengan adat istiadatnya dan tidak memperdulikan pengaruh luar, khususnya dalam kehidupan  masyarakat  Indonesia. Contoh masyarakat yang masih memegang teguh adatnya adalah masyarakat kampung Naga dan orang Rembong di Flores Barat.

Terdapat beberapa adat istiadat yang masih mereka lakukan dan lestarikan hingga saat ini. Sebenarnya, dengan adat istiadat yang masih dipegang teguh di beberapa wilayah, kita bisa mengetahui bagaimana corak-corak hukum adat yang berkembang di masyarakat Indonesia. Karena hukum adat adalah hukum asli orang Indonesia, maka selayaknya lah kita mengetahui dan mempelajari bagaimana kehidupan masyarakat yang bisa dikatakan masih primitif di bidang kebudayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Dadu, Ignatius Egi. Adat Istiadat Orang rembong di Flores Barat. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: 1997.

Peserta Lawatan Budaya. Karya Tulis Lawatan Budaya Kampung Naga –Kampung Pulo. BPSNT, Bandung: 2007.

 

  1. I’m not that much of a internet reader to be
    honest but your blogs really nice, keep it up! I’ll go ahead and bookmark your website to come back in the future. Cheers

    • gustydarmada
    • December 4th, 2013

    Bantu saya untuk bergabung dgn Anda,saya akan mengajak anda mengunjugi Daerah Rembong,sy putra aslinya.sy punya niat utk mengembgkn budaya rembong.I will help you then.contact person:082342103525.(jka dibutuhkn)

  2. Apa ang saya pokirkan dari tulisan ini sangat berguna untuk kami.
    Terima kasih, kami yakin pada tulisan selanjutnya pasti lebih lengkap lagi.
    Sukses untuk Anda!

  3. Apa yang saya temykan dari tulisan iini
    amat bermanfaat bagi saya. Alhamdullilah, saya yakin pada berita seanjutnya
    pasti lebih berkualitas lagi. Sukdes unttuk Anda!

  4. Thanks in support of sharing such a good opinion, article is good, thats why i have read it entirely

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: