Subang

PROBLEMATIKA MASYARAKAT SUBANG PADA UMUMNYA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara geografis Kabupaten Subang terletak di Jawa Barat bagian utara, memiliki wilayah seluas 1.864 km2 atau sekitar 4,31 persen luas Jawa Barat. Menurut data tahun 2008 penduduk Kabupaten Subang berjumlah 1.446.889 orang dengan laju pertumbuhan penduduk 1,75 persen pertahun dan tingkat kepadatan penduduk mencapai 705 jiwa per km2. Jumlah penduduk yang besar, kondisi dan letak geografis yang terdiri dari pegunungan, pedataran, dan pesisir merupakan aset strategis bagi pembangunan di kabupaten Subang.
Akan tetapi jumlah penduduk yang relatif besar dan kondisi geografis yang kaya jika tidak ditunjang dengan perbaikan kualitas hidup akan sangat mengganggu proses pembangunan itu sendiri. Seperti lazimnya permasalahan yang terjadi di sebagian besar kabupaten Subang khususnya yang berada di daerah pantura, laju pembangunan manusia masih terhadang oleh cukup rendahnya derajat kesehatan, pendidikan dan rendahnya daya beli masyarakat khususnya di daerah pedesaan. )
Kemajuan pembangunan manusia sesungguhnya ditujukan untuk manusia dan oleh manusia. Partisipasi/gotong royong akan mempercepat proses pembangunan manusia. Dengan partisipasi/gotong royong merupakan modal sosial yang tinggi, masyarakat akan lebih mudah menyelesaikan berbagai problem kolektif yang mereka hadapi. Partisipasi/gotong royong akan memberikan energi kolektif untuk dapat mendorong roda perubahan yang cepat di tengah masyarakat dan memperluas kesadaran bersama bahwa banyak jalan yang bisa dilakukan oleh setiap anggota kelompok untuk memperbaiki kesejahteraan dan mutu kehidupan secara bersama-sama serta bertanggung jawab atas kenyamanan, kebersihan, dan keamanan lingkungan tempat tinggalnya. Mereka akan memiliki daya tangkal yang tinggi terhadap berbagai gangguan dan dampaknya akan lebih aman dari berbagai tindak kriminalitas. )

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kasus dan bukti-bukti nyata mengenai problematika masyarakat kab. Subang?
2. Bagaimana sebab akibat serta solusi dari problematika masyarakat kab. Subang?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas makalah yang diberikan oleh dosen mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar..
2. Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan masyarakat kab. Subang.

D. Metodologi
Dalam penulisan karya tulis ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi melalui :
• Penelitian kepustakaan (Library Research); yaitu penelitian yang dilakukan melalui studi literature, dokumen, internet, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.
• Interview; yaitu mencari data atau informasi atau keterangan, melalui wawancara dengan siapa saja yang terkait dengan obyek penelitian.

E. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penulisan ini, maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan sistematika penulisannya agar lebih mudah dipahami dalam memecahkan masalah yang ada, di dalam penulisan ini dibagi dalam tiga bab yang terdiri dari:
Bab I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistimatika penulisan.
Bab II : Bab ini merupakan bab yang berisi tentang pembahasan yang tercakup dalam rumusan masalah.
Bab III : Bab ini merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran-saran.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Identifikasi Kasus dan Bukti-bukti Nyata
A.1. Maraknya Kasus Prostitusi di Kabupaten Subang
Provinsi Jawa Barat dengan populasi remaja sebanyak 8,5 juta jiwa, sangat mudah menemukan daerah-daerah hitam yang biasa digunakan untuk menjajakan kenikmatan sesaat ini. Mulai dari tarif sepuluh ribuan hingga ratusan ribu rupiah tersedia seperti kacang goreng.
Di kabupaten Subang misalnya, banyak daerah prostitusi remaja tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Di Kecamatan Purwadadi, Ciasem, Patok Beusi, dan Kecamatan Pegaden, banyak ditemui rumah makan yang juga menyediakan perempuan-perempuan muda belia yang siap menemani tamu restoran. Bahkan, di kecamatan Purwadadi dan Pegaden, ada semacam prostitusi kekeluargaan yang dilakukann di rumah-rumah.
Subang adalah salah satu kota yang rentan terhadap cap ‘pelacuran’. Bukan rahasia jika dunia prostitusi begitu lengket di beberapa daerah Subang. Harumnya pun sudah menyebar ke kota-kota lain. Menelusuri kawasan prostitusi terselubung di Subang bakal membuat mata terbelalak takjub. Betapa tidak, 22 kecamatan yang ada di kota nanas ini terindikasi memilikinya. Beberapa di antaranya di kecamatan Pagaden, Cipunegara, Cimacan dan Compreng. Luar biasanya, di Pagaden dan Cipunegara, lokasi prostitusi terselubung ini justru adalah rumah-rumah penduduk.
Seperti pedesaaan pada umumnya, kawasan prostitusi tak bakal tercium. Namun, dari para tukang ojek yang mangkal, barulah terungkap bahwa rumah-rumah penduduk itulah arena prostitusinya. Biasanya, pengojek mengantarkan para pendatang yang membutuhkan jasa wanita penghibur, langsung kerumah yang bersangkutan. Wangi aroma ‘pelacuran’ rumahan di Subang ternyata sudah disadari oleh warganya sendiri. Namun, praktek kotor itu seolah sudah menjadi budaya dan kebiasaan. Gilanya lagi, aksi penjualan anak perempuan dibawah 20 tahun pun kerap terjadi dengan sepengetahuan keluarga, termasuk orang tua.
Mengencani para wanita pun tak terlalu sulit. Pasalnya, warga umumnya tahu mana pendatang yang membutuhkan kesenangan sesaat itu. Di desa Saradan, Pagaden, Subang, terdapat beberapa rumah warga yang berfungsi ganda sebagai tempat prostitusi terselubung. Wanita penghibur yang disediakan, tak lain adalah tetangga, saudara atau bahkan anak mereka sendiri.
Pada umumnya, perempuan muda didesa ini enggan untuk dibawa berkencan diluar rumah. Mereka beralasan, khawatir terkena razia dan merasa tidak nyaman dengan tempat-tempat asing. Tidak seperti PSK pada umumnya, perempuan muda yang menjajakan diri didesa ini tidak terlalu mematok waktu ketika diajak berkencan. Mereka juga tidak keberatan ditanyai mengenai kehidupan pribadinya.
Warga tampaknya tidak ambil pusing dengan praktek prostitusi yang berlangsung diwilayah tempat tinggalnya. Bahkan, kesan yang tertangkap justru mereka bangga didatangi oleh pendatang yang berasal dari kota, khususnya kota Jakarta. Kendati harus membayar minuman yang disuguhkan, para pendatang mendapat perlakuan yang sangat ramah, layaknya tamu istimewa.
Penindakan praktek prostitusi yang berpraktek dirumah, sampai saat ini belum maksimal. Aparat setempat baru menindak sebatas teguran belaka. Pasalnya, aksi yang sepertinya sudah mengakar tersebut, sulit benar-benar diberantas tanpa peran serta warga desa itu sendiri.
Sejauh ini, praktek prostitusi yang berlangsung di daerah ini tampak berlangsung lancar. Belum ada tindakan tegas, berupa larangan atau razia seperti yang terjadi di hotel-hotel atau tempat prostitusi terselubung lain.Kebanyakan, warga yang mempraktekan aksi prostitusi terselubung, sebetulnya tidak benar-benar terdesak oleh faktor ekonomi. Mereka rata-rata saling beradu gengsi dengan para tetangga yang sama-sama punya usaha terlarang itu. Gengsi seolah terangkat ketika kedatangan tamu yang memesan perempuan muda dari mereka.
Warga sendiri tidak tahu pasti sejak kapan praktek prostitusi terselubung di kawasan ini berlangsung. Menurut warga setempat, I’in, kampung ini marak menjadi tempat prostitusi terselubung sejak tahun 1970-an dan berlangsung hingga sekarang. Pendatang yang biasa memesan pekerja seks di kampung ini pun mengaku merasa aman ketika melaksanakan aksi bejatnya itu. Tidak terbersit kekhawatiran akan adanya razia yang dilakukan aparat keamanan.
Ajang prostitusi terselubung rupanya sudah sangat mengkhawatirkan. Jika dilakukan di tengah-tengah pemukiman warga seperti didesa Saradan, Kecamatan Pagaden Subang, Jawa Barat ini, tentu sulit untuk diberantas. Pasalnya, sulit untuk membedakan mana mempraktekan kegiatan ilegal dan mana yang tidak. Dalam kasus seperti ini, selain adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum, peran serta dan kesadaran masyarakat sendiri, tentu sangat diharapkan. Sehingga, aksi ilegal itu tidak terus berlanjut. (kotasubangonline.com)

A.2. Kasus Pengangguran di Kabupaten Subang
Pengangguran di wilayah Subang setiap tahun selalu bertambah dengan jumlah yang cukup banyak, seiring kelulusan sekolah lanjutan atas. Dari data yang ada, siswa lulusan SLTA yang melanjutkan ke pendidikan tinggi hanya 15% dan ini artinya 85% kembali ke masyarakat dan berupaya mencari penghasilan sendiri, serta menjadi pengangguran akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan.
Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi, maka akan menjadi bom waktu dan memicu munculnya revolusi sosial. Sebab apabila jumlah lulusan SLTA di Subang berjumlah 10.000 siswa, jumlah pengangguran baru diperkirakan mencapai 40.000-50.000/tahun. Karena itu, pihaknya berharap para pengusaha khususnya yang bergerak di bidang padat karya bersedia berinvestasi di Kab. Subang. Selebihnya akan dibina untuk berwirausaha sehingga mereka bisa mandiri dan menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.
Menurut Bpk. Didin Tajudin selaku Kasi. Pengolahan Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang, Pengangguran dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Setengah menganggur adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
2. Pengangguran terbuka adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak di kabupaten Subang karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Menurut pernyataan yang dipaparkan oleh beliau, topografi masyarakat Kabupaten Subang dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu penduduk daerah pesisir pantai, dataran, dan pegunungan. Hal tersebut memberikan masalah yang berbeda di setiap daerahnya. Dan karena perbedaan tersebut maka mempengaruhi pula tingkat pengangguran masyarakat di Kabupaten Subang.
Misalkan saja di daerah pesisir pantura, permasalahan yang sering terjadi adalah banjir. Banjir dapat mengakibatkan laju perekonomian masyarakat setempat di bidang perikanan menjadi terhambat, selain itu juga banyak lahan pertanian yang terendam. Dengan begini, indikator yang disebut pengangguran di daerah pantura kebanyakan menurut BPS adalah pengangguran musiman. Ketika lahan mereka terendam banjir, maka para buruh tani atau nelayan tidak akan bekerja dikarenakan cuaca yang buruk atau hal2 lain bersifat bencana.
Menurutnya lagi, jika ingin mengetahui atau menilai data pengangguran di wilayah Subang mungkin akan susah. Hal ini disebabkan karena data yang didapatkan berbeda atau tidak relevan antara BPS dan dinas-dinas lain yang berada di Kabupaten Subang. Selain itu pula, ada faktor kebijakan pemerintah yang hanya mencakup wilayah kabupaten saja (tidak perkecamatan) dalam mendata setiap permasalahan yang ada.

B. Identifikasi Sebab-Akibat dan Solusi
B.1. Sebab-Akibat dan Solusi dari Maraknya Kasus Prostitusi di Kabupaten Subang.
Dalam mengatasi pelacuran remaja ini jika ditelusuri tampaknya banyak akar-akar masalah yang perlu ditangani, salah satunya adalah kemiskinan. Dan, berbicara masalah kemiskinan ini ujung-ujungnya yang menjadi korban juga adalah remaja perempuan.
Padahal, di usia remaja, banyak remaja yang sedang mencari identitas diri. Dan, biasanya identitas diri ini diperoleh dari lingkungan. Sementara lingkungan remaja ini penuh dengan hal-hal yang menggoda iman. Jika iman remaja itu tidak kuat, ia akan hanyut mengikuti arus mode remaja motropolitan yang penuh dengan budaya glamour. Hal-hal seperti inilah yang mudah menyeret remaja itu ke kasus pelacuran remaja.
Adapun beberapa faktor lain yang menyebabkan para remaja perempuan beralih profesi sebagai PSK (Penjaja Seks Komersial) di Kabupaten Subang yaitu:
- Faktor ekonomi keluarga yang rendah.
- Kenakalan remaja.
- Faktor lingkungan sosial.
- Karakter remaja perempuan yang sering inging mencoba hal-hal baru.
- Adat ketimuran yang sudah terkikis.
Apa pun alasan seorang remaja terjun di dunia prostitusi, karakteristik pekerjaan yang harus dilakukan oleh pekerja seks membuat prostitusi menjadi pekerjaan yang berisiko tinggi. Dalam melakukan pekerjaannya, mereka berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual dengan banyak orang.
Dari pelanggan yang banyak dan beragam itulah, risiko yang dihadapi seorang pekerja seks juga banyak dan beragam. Dari pelanggan yang penipu, mungkin saja ia tidak dibayar oleh pelanggan setelah melakukan aktivitas seksual. Apabila tidak menggunakan alat kontrasepsi, pekerja seks juga berisiko mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.
Selain itu, posisi tawar yang lemah di pihak pekerja seks juga membuat mereka sering tidak berhasil membujuk pelanggannya untuk menggunakan proteksi/kondom. Akibatnya, dari pelanggan yang mengidap penyakit menular seksual (PMS), atau bahkan HIV/AIDS, pekerja seks tadi dapat tertular tanpa mampu melindungi tubuhnya. Apalagi ada mitos, karena risiko tertular HIV lebih besar jika berhubungan dengan pekerja seks dewasa, maka kaum pria hidung belang memburu anak-anak.
Risiko berat lain yang seringkali harus dihadapi remaja sebagai pekerja seks adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelanggan yang bisa jadi sampai mengancam nyawanya. Tidak jarang, pelanggan yang datang juga menginginkan bentuk hubungan seks yang tidak wajar.
Selain risiko karena karekteristik pekerjaannya sendiri, masih ada risiko lain. Prostitusi juga bukan dunia yang mudah ditinggalkan. Sekali kita tercebur, perlu usaha ekstra keras untuk berhenti. Banyak remaja, terutama di kalangan anak sekolah atau kuliah yang terjun ke dunia prostitusi memang tidak berniat untuk menjadikan prostitusi sebagai pekerjaan utamanya. Mereka berpikir, mereka hanya akan menjadi pekerja seks sementara saja. Dalam beberapa tahun ke depan mereka akan berhenti dan beralih profesi. Ternyata masalahnya tidak semudah itu.
Apabila aktivitasnya sebagai pekerja seks ini diketahui oleh keluarganya, maka besar kemungkinan mereka tidak mau menerimanya kembali. Belum lagi teman-teman dan lingkungan masyarakat yang seringkali bersikap menghakimi. Hal ini membuat mereka merasa lebih baik terus bekerja sebagai pekerja seks. Lama kelamaan, pilihan untuk bekerja di bidang lain akan tertutup.
Profesi sebagai pekerja seks tidak dipandang sebagai profesi yang terhormat oleh masyarakat. Memang di kalangan masyarakat luas sendiri terdapat semacam dualisme dalam menyikapi masalah prostitusi.
Di satu pihak, demand atau permintaan terhadap pekerja seks remaja juga tetap tinggi dan banyak yang bersedia membayar pekerja seks remaja lebih mahal dibanding yang sudah berumur. Namun, di pihak lain, walaupun saat ini sebagian kecil masyarakat sudah mulai melihat para pekerja seks sebagai korban dan berusaha untuk menawarkan program-program pengentasan untuk menolong mereka, sebagian besar lain dari masyarakat masih terus mengutuk dan mengucilkan para pekerja seks, menganggap mereka sampah masyarakat.
Bahkan ketika mereka ingin beralih profesi ke bidang lain yang dipandang bermartabat oleh lingkungannya, masyarakat tidak begitu saja menerima mereka. Hal ini mengakibatkan para pekerja seks mengalami kesulitan untuk alih profesi ke bidang lain.
Data yang pasti mengenai pekerja seks di bawah umur sangat sulit untuk diperoleh. Biasanya pekerja seks tersebut diberi atau menggunakan identitas palsu di mana umur dan fotonya dibuat supaya terlihat lebih tua. Selaian itu, hampir tidak ada keluhan baik dari pelanggan maupun para pekerja seks itu sendiri menyangkut aktivitas seksual yang dilakukan. Mobilitas para pekerja seks itu sendiri juga begitu tinggi sehingga mempersulit pelacakan.
Sulitnya memperoleh data itu membuat masalah ini tidak mendapat perhatian yang cukup, dan berdampak pada tidak jelasnya perlindungan yang (seharusnya) diberikan oleh pemerintah bagi para pekerja seks, terutama pekerja seks di bawah umur. (Singgih B Setiawan)
Solusi untuk mengurangi banyaknya Penjaja Seks Komersial di Subang adalah:
- Jam mata pelajaran pendidikan agama di setiap sekolah perlu ditambah.
- Sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya dan akibat dari hubungan seksual di luar nikah.
- Adanya reformasi dari aparat pemerintah.
- Adanya program merubah karakter masyarakat.

B.2. Sebab-Akibat dan Solusi dari Kasus Pengangguran di Kabupaten Subang.
Menurut Bpk. Jajang Abdul Muhaimin, Spd.i. selaku sekretaris Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat Kabupaten Subang, beberapa penyebab dari banyaknya pengangguran di Kabupaten Subang hádala sebagai berikut:
- Kurangnya lapangan pekerjaan.
- Kebijakan pemerintah yang kurang tepat dalam penyelenggaraan pembangunan manusia.
- Mental para pemuda untuk maju yang kurang kuat.
- Adat istiadat orang Sunda yang masih kuat dibawa seperti pepatah ”asal ngariung nu penting mah tuang” (asal berkumpul yang penting makan).
- Ketergantungan masyarakat terhadapa bantuan pemerintah seperti BLT.
Bisa dipastikan bahwa pengangguran yang terjadi akan membawa dampak pada aspek (sektor) lainnya. Aspek-aspek yang akan terkena langsung adalah kesehatan dan pendidikan. Karenanya sebagian beban biaya pendidikan dan kesehatan harus ditanggung (bahkan merupakan kewajiban) pemerintah. Bila pengangguran tersebut berlangsung cukup lama, maka kemiskinan absolut bahkan kelaparan bisa terjadi. Dampak lain dari pengangguran di antaranya adalah :
- Ketimpangan sosial. Ini terjadi karena tidak seluruh komponen masyarakat menganggur, selalu ada sekelomok masyarakat yang nasibnya masih beruntung, ia dapat bekerja dengan normal bahkan memperoleh penghasilan yang berlebih,
- Kecemburuan sosial. Hal ini terjadi karena terpicu oleh disparitas sosial yang ada, misalnya ketimpangan pendapatan, status sosial dan kekuasaan,
- Meningkatnya budget pemerintah untuk sektor pendidikan dan kesehatan,
- Meningkatnya kriminalitas dan kekerasan sosial lainnya,
- Munculnya sikap permisif (serba boleh) sebagai jalan pintas untuk mempertahankan hidup,
- Tidak lancarnya sistem demokrasi, karena money politic lebih dominan
- Disharmonisnya sistem rumah tangga, karena penopang kelangsungan rumah tangga (penghasilan) tidak memadai lagi,
- Meningkatnya sex komersial (pelacuran), sebagai representasi sulitnya mencari lapangan kerja,
- Melemahnya daya beli, sebagai konsekuensi langsung dari ketidakberdayaan ekonomi (rendahnya pendapatan rumah tangga), dan
- Kekuasaan dan harga diri diukur oleh tingkat kekayaan dan penghasilan yang dpat diperoleh (seba uang). Sebetulnya ini suatu kekeliruan yang paling patal, namun masyarakat cenderung berperilaku seperti itu. Dirasakan sekali dengan uang segalanya jadi lancar, menyenangkan, status sosial terangkat dan dihargai orang lain.
Dan ada beberapa solusi untuk mengurangi pengangguran di Kabupaten Subang menurut Bpk. Jajang yaitu :
- Penambahan lapangan pekerjaan baik di bidang pertanian, perdagangan, industri, maupun yang lainnya.
- Adanya kebijakan pemerintah yang dapat menguntungkan semua pihak baik dari pemerintah, investor, dan masyarakat.
- Adanya pemberdayaan sumber daya manusia di setiap desa atau kelurahan, contohnya di Karang Taruna.
Menurut beliau lagi, di Kabupaten Subang sudah menjalankan program dari pemerintah pusat yang disebut PKH atau Program Keluarga Harapan. Program ini hampir sama dengan BLT, namun perbedaannya yaitu PKH dalam pelaksanaanya bersyarat.
Program ini lebih baik dibandingkan dengan BLT, karena dengan adanya PKH, masyarakat yang benar-benar tidak mampu bisa terdata dan benar-benar menerima bantuan dari pemerintah. Dengan adanya program ini diharapkan masyarakat Subang bisa sejahtera.
Terdapat beberapa alternatif (cara) yang bisa dilakukan dalam rangka mengatasi masalah pengangguran. Cara ini mengikuti dua pola (jalur), yaitu lewat jalur demand for labour, dan supply of labour. Upaya mengatasi pengangguran lewat jalur permintaan tenaga kerja berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja baru secara langsung. Jalur ini biasanya berhubungan dengan aspek-aspek sebagai berikut :
(a) Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam (misalnya lahan). Hal ini bisa dilakukan apabila masyarakat diberi peluang (akses) terhadap penguasaan (paling tidak) penggarapan lahan. Tidak hanya sampai di situ, pemerintah pun harus memberikan fasilitasi yang kondusif agar masyarakat mampu mengelola lahan dengan optimal dan aman karena kepastian hukumnya jelas,
(b) Akses pada sumber-sumber modal. Akses pada sumber modal sangat menentukan bagi pengembangan usaha sekaligus kesempatan kerja (sama seperti sumberdaya tanah/lahan). Ketika kemudhan-kemudahan diciptakan untuk masyarakat lapisan bawah, dan pembinaan pun dilakukan, maka dampaknya secara langsung akan dirasakan oleh masyarakat,
(c) Peningkatan investasi (pembentukan modal, capital formation). Investasi bisa bersumber dari pihak internal maupun eksternal. Dari internal bisa didapat lewat pemupukan tabungan (dana pihak ketiga) masyarakat dan dari eksternal melalui peningkatan arus investasi (penanaman modal) dari pihak luar. Bila dua sumber ini lancar dan kenaikannya cukup signifikan, maka dampaknya akan terasa pada gairah usaha dan otomatis terhadap permintaan tenaga kerja (kesempatan kerja),
(d) Kerjasama. Kerjasama akan sangat bergantung pada kredibilitas pemerintah, situasi objektif wilayah (peluang pasar, potensi wilayah, keamanan, politik dan kelembagaan yang mendukung sistem pemerintahan). Bila hal ini telah dipastikan kondusif, maka investor cenderung siap melakukan kerjasama (pengembangan wilayah), sehingga pada gilirannya berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah dan kesempatan kerja,
(e) Perluasan pasar. Tahap ini tercipta setelah tahap kerjasama dan arus investasi masuk ke suatu wilayah. Artinya tahap ini sebagai konsekuensi dari existing situation yang ada sebelumnya. Perluasan pasar dapat ditingkatkan dengan beberapa cara diantaranya dengan perbaikan kualitas (TQM), penguatan akses informasi, memahami prilaku pesaing, memahami kehendak buyer dan lancarnya delivery order system,
(f) Pembinaan usaha. Terdapat ragam upaya yang bisa dilakukan dalam rangka pembinaan usaha (paket-paket pembinaan usaha sudah banyak tersedia). Tetapi yang paling penting dari itu semua adalah jiwa wirausaha yang dilandasi dengan nilai-nilai transendental yang nampaknya masih perlu ditingkatkan. Artinya harus dipahami oleh semua, bahwa segala usaha dan upaya yang dilakukan, harus ditujukan hanya semata untuk mengabdi kepada Tuhan dan bermaksud ingin memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi yang lain (manusia dan alam/lingkungan sekitar),
(g) Pengembangan usaha padat karya (labor intensive). Usaha padat karya adalah jenis karakteristik usaha yang paling cocok untuk negara berkembang yang memiliki tingkat pertumbuhan penduduk tinggi. Seperti halnya negara Indonesia. Tetapi bukan berarti kita menolak semua teknologi yang terjadi saat ini. Teknologi tetap dibutuhkan, dengan catatan tidak akan mempersulit (mempersempit) lapangan kerja baru, ramah lingkungan, terjangkau biayanya dan adaptasinya dapat dengan mudah diserap dan diimplementasi oleh tenaga kerja domestik, dan
(h) Kebijakan pemerintah. Suasana kondusif dapat tercipta karena pemerintah dan pemerintah daerah melakukan fasilitasi dan memberikan berbagai kemudahan (insentif ekonomi) bagi pengembangan usaha. Berbagai peraturan yang diciptakan bertujuan untuk memberikan motivasi dan semangat usaha, tidak sebaliknya (menjadikan pengusaha atau kegiatan usaha menjadi objek penghasilan semata). Budaya pendekatan proyek (project oriented) harus diubah menjadi budaya social benefit. Artinya semua usaha yang dilakukan pemerintah tidak melulu profit seeking (memburu laba) dalam rangka mendongkrak economic growth semata, tetapi lebih jauh dari itu bagaimana “kue pertumbuhan” itu mengalir dan bermanfaat bagi masyarakat kecil yang sekarang sedang terancam bahaya kelaparan.
Sedangkan lewat jalur supply of labor lebih terkait dengan pengembangan sumber daya manusia (human capital formation). Implementasi praktis lewat jalur ini, seperti disarankan beberapa ahli (Reynolds, Masters and Moser, 1986; Ehrenberg-Smith, 1988; Sudarman Damin, 2003) adalah dengan model-model kegiatan sebagai berikut :
(a) Primary and high school education (peningkatan dan penguatan pendidikan dasar dan menengah). Bagaimana caranya supaya kegiatan ini dapat berjalan dengan efektif ? Biasanya (seharusnya) ini dilakukan oleh pemerintah. Mekanismenya adalah dengan penyediaan anggaran yang cukup memadai. Tanpa dukungan dari pemerintah, program ini tidak akan berjalan dengan baik, karena model pendidikan ini bersifat massal. Artinya harus diikuti oleh semua warga yang telah masuk pada usia sekolah,
(b) College and postgraduate education (kursus-kursus dan pendidikan lanjutan, misalnya Perguruan Tinggi). Pendanaan program ini tidak menjadi kewajiban negara sepenuhnya, tetapi tetap subsidi anggaran di sektor ini harus diberikan
(c) Training provided by employers on the job (pelatihan yang disediakan langsung oleh perusahaan terkait langsung dengan pekerjaan). Program ini merupakan kebutuhan perusahaan dalam rangka penajaman wilayah garapan (jobs) yang akan langsung ditangani di perusahaan yang bersangkutan. Hal ini bisa tidak terkait dengan program subsidi pemerintah. Kegiatan ini akan beragam sekali tergantung spesifikasi bidang usaha yang dikembangkan oleh perusahaan,
(d) Accumulated of skill through continued work experience (peningkatan keahlian melalui pengalaman kerja). Keahlian ini tentunya tidak didapat dari bangku sekolah, atau pendidikan formal lainnya, tetapi diperoleh melalui pengalaman kerja secara langsung (learning by doing). Akumulasi pengetahuan sedemikian biasanya memiliki kedalaman yang mantap pada bidangnya dan berkonsekuensi pada harga yang mahal. Sekarang upaya kearah itu dapat dilakukan dengan melakukan kombinasi antara pendidikan formal dengan terjun langsung (harus menempuh waktu tertentu) pada bidang usaha yang relevan,
(e) Government training programs for displaced or disadvantaged workers (pelatihan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengganti tenaga kerja yang akan pensiun). Program ini bisa sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mempersiapakan tenaga kerja yang siap bekerja untuk mengganti tenaga kerja yang akan pensiun. Sebetulnya kondisi yang sama dapat juga dilakukan oleh perusahaan dalam rangka mempersiapakan tenaga kerja pengganti yang lebih produktif dan semangat baru,
(f) Memberikan fasilitas dan pelayanan kesehatan. Fasilitas dan pelayanan kesehatan sangat diperlukan oleh tenaga kerja, karena akan terkait langsung dengan produktifitas dan semangat kerja. Bahkan secara permanen semua warga seharusnya mendapatakan pelayanan asuransi yang memadai, tidak hanya tenaga kerja, dan
(g) Migrasi. Migrasi bisa ditolelir sepanjang disertai beberapa syarat : (i) tenaga kerja memiliki keahlian yang memadai sesuai dipersyaratkan di tempat tujuan mereka bekerja, (ii) tingkat kepadatan penduduk di daerah tujuan masih kondusif, (iii) sudah tidak ada lagi potensi daerah asal yang bisa dikembangkan, (iv) upah yang akan diterima lebih baik daripada di daerah asal, dan (v) perlakuan terhadap tenaga kerja di daerah tujuan tidak menyimpang.
Pada tingkat implementasi, model jalur supply of labor (human capital formation) sering menghadapi beberapa hambatan (Jinghan, 2000) diantaranya :
(a) sulitnya mengukur kebutuhan modal manusia,
(b) identifikasi masalah, yaitu pada tahap pembangunan mana paling banyak membutuhkan modal manusia,
(c) seberapa besar tingkat akumulasinya, maksudnya daya serap tenaga kerja terhadap transfer of knowledge,
(d) jenis pendidikan apa yang harus diberikan, kapan dan sejauh mana,
(e) bagaimana mengukur hasil dari investasi pada SDM (Jingan, 2000:417). Hal ini perlu disampaikan agar dapat dicarikan jalan keluarnya dan dipertimbangkan lebih matang lagi ketika kita akan melakukan pengembangan (peningkatan) kualitas modal manusia.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari data-data yang telah disusun, ternyata banyak problematika yang terjadi di masyarakat Kabupaten Subang. Permasalahan tersebut diantaranya yaitu masalah prostitusi dan pengangguran.
Subang sendiri merupakan salah satu pemasok mangga (sebutan dari PSK/WTS) terbesar di Jawa Barat. Banyak faktor yang mengakibatkan para remaja perempuan kabupaten Subang bekerja sebagai PSK/WTS yaitu karena tingkat ekonomi yang rendah, kenakalan remaja, serta lingkungan sosial yang rentan terhadap karakter remaja saat ini.
Selain itu juga, pengangguran merupakan permasalahan yang cukup berat di Kabupaten Subang. Faktor-faktor yang menyebabkan banyaknya pengangguran di Kabupaten Subang diantaranya adalah kurangnya lapangan pekerjaan, kebijakan pemerintah, serta motivasi yang kurang.
Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut perlu adanya kerja sama antara pemerintah sebagai kontrol sosial dan masyarakat sendiri demi memperbaiki kesejahteraan masyarakat Kabupaten Subang. Selain itu, pemerintah pun mencanangkan PKH (Program Keluarga Harapan) demi tercapainya kemakmuran masyarakat Subang.

B. Saran
Sebagus dan sebesar apapun program pembangunan manusia dilaksanakan bila tanpa melibatkan partisipasi masyarakat maka hasilnya tidak akan optimal dan program kegiatan akan meredup dengan sendirinya tanpa ada kelanjutan gegap gempita hanya dipermulaannya saja. Masayarakat Kabupaten Subang mempunyai budaya kebersamaan yang kuat melalui kebiasaan hidup bergotong-royong, apabila kebergotongroyongan diterapkan ke dalam masyarakat maka pembangunan manusia hasilnya akan lebih optimal.

Daftar Pustaka

Satlak PPK dan BPS Kab.Subang. 2008. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Subang. Subang.BPPD dan BPS Subang.
kotasubangonline.com

Narasumber:
1. Bpk. Didin Tajudin
Kasi Pengolahan Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang.
2. Jajang Abdul Muhaimin, Spd.i.
Sekretaris Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat Kabupaten
Subang

  1. buad kawand2 yang pengend tau tentang kabupaten subang plus segala permasalahannya baik itu gejala sosial,ekonomi, or anything else,, silahkan kasih commentnya ya,,
    ntar biar akuwh bisa ngasih postingan lainnya di blog ini tentang subang..
    okewh :D

      • hopiandy suryana
      • July 23rd, 2013

      Artikelnya padat berisi dan lengkap banget, sangat manfaat buat saya yang lagi pingin kenal deket dengan subang. Thx tuk Dinatropika, kalo punya artikel serupa saya mau doong.. Makasih sebelumnya y

    • Emeraldy Chatra
    • April 23rd, 2010

    Terimakasih banyak telah memuat tulisan ini.Sangat berguna bagi saya.Oleh sebab itu izinkan saya memindahkan ke file word dan menyimpannya di hardisk saya.

    Mengapa tulisan anda sangat penting? Saya mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang sekarang sedang menulis tesis.Topi penelitian saya adalah masalah resistensi terhadap penggunaan kondom untuk mencegah HIV/AIDS.Nah,sesuai dengan pertumbuhan jumlah pengidap HIV saya memutuskan untuk meneliti di dua kota: Bandung dan Subang.Saya memilih Bandung karena angka pengidap HIV/AIDS sangat tinggi,dan aktivitas beresiko masih tetap berjalan tanpa dapat dicegah oleh pemerintah.Lalu,mengapa Subang? Dari informasi yg saya peroleh di lapangan, banyak penjaja seks di Bandung yang berasal dari Indramayu dan Subang.Itulah yang menyebabkan saya memilih Subang. Indramayu sebagai alternatif.Saya lebih condong ke Subang mengingat secara kultural penduduknya mempunyai kesamaan budaya dengan penduduk asli Bandung.

    Saya sangat berterima kasih sekiranya penulis artikel diatas mau menginformasikan kepada saya siapa saja (selain dua orang yang sudah ditulis) yang bagus untuk saya kunjungi ketika pertama kali datang ke Subang.

    Demikian,sekali lagi terimkasih. Salam

    • wah dina malah seneng banged kalau artikel dina bisa dijadiin referensi buad kak emeraldy. ini bisa dijadiin motivasi lagi buad na bikin artikel ttg subang.
      kalau anda berminat untuk melakukan penelitian d subang anda bisa menghubungi BPS subang atau dua orang yang saya sebutkan d atas.

      *hatur nuhun pisan lol

    • moest_emha
    • April 25th, 2010

    Tahun lalu, aq dalam satu team ditugasin ke indramayu selama 4 bulan, untuk pelaksanaan program pemerintah. Singkat cerita team kami merekrut beberapa orang lokal untuk membantu kami merapihkan data yang kebetulan adalah wanita abg yang putus sekolah. Alangkah terkejutnya setelah aq mendengar kisah salah seorang dari mereka yang kebetulan memang diperbantukan di aq. Sebut saja namanya ayu, umurnya belumlah genap 18 tahun tapi pengalamannya dalam dunia hiburan sungguh bikin geleng kepala. Ia bercerita bahwa sebelum usianya 15 tahun, atau kelas 2 SMP ia diajak oleh “mami” ke Bali untuk bekerja di sebuah klub malam. Dirinya yang tidak terbiasa dengan minum2an berakohol menjadi akrab bahkan termasuk mengkonsumsi sedikit narkoba.
    Bagaimana dengan pakaiannya, ketika aq tanya ia bercerita bahwa disana ia diharuskan memakai pakaian super mini, yah tahulah… mulanya dia merasa risih, tapi lama kelamaan terbiasa juga, meski waktu ia membantu kami tak pernah aq lihat berpakaian mini di kampungngnya. Setahun di Bali, ia berangkat menjadi pahlawan devisa dinegeri singa, meski hanya selama beberapa bulan, karena ribut dengan majikannya yang ingin memperkosa dirinya.
    dari indramayu, aq mendapati peristiwa nyata, bahwa banyak gadis-gadis dibawah umur yang secara entah sengaja atau tidak dijadikan mesin uang oleh keluarga. Celakanya para “mami’ atau kolektor cukup cerdik merayu para gadis itu dengan memberikan langsung sejumlah uang tunai kepada keluarganya yang kekurangan. Ironis…. t

    • huuuuuuuuufttttttt,,
      cerita yang mengharukan sekaligus bikin merinding,,,
      hmmm,,, emang seh d indramayu atau daerah bagian utara terdapat banyak tempat “open house”,,,
      itu dikarenakan pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yg paling cepat menghasilkan uang,,, khususnya bagi orang tua yg mempunyai anak gadis…

      thx ya udah berbagi cerita,,,
      i’ll wait ur next experiences

    • gin
    • May 26th, 2010

    seratan ieu manfaat pisan
    hatur wanoh ka sadayana

    • gin
    • May 26th, 2010

    menyoal prostitusi, rumit bnr menentukan titik mulanya. makanya solusinya pun ngejelimet. apa lagi, memang, prostitusi erat kaitannya dengan “pemerintah”, tambah rudet jadinya. tp, kosep “lokalisasi” nampakanya akan membantu menekan prekuensinya.

    • yup yup yup,,
      palagy di perkuliahan dina sering banged disinggung2 peran aktif negatif pemerintah di bidang prostitusi,,
      apalagy masalah lokalisasi yg dilindungi pihak2 “orang dalam”,,
      hhmffpptt,,, membingungkan sekali >,<

    • yosep
    • July 6th, 2010

    terimakasih atas informasi yang telah anda berikan… tulisan anda sangat membatu dalam pengerjaan skripsi saya…
    apabila ada imformasi terbaru mohon untuk di cntumkan kembali.

    thanks
    yosep
    mahasiswa S1 hukum unpad

    • siap siap,,
      dina pasti dengan senang hati sekali bisa bantu rekan-rekan yang membutuhkan informasi mengenai Subang..

      ^^

    • Yayah Komariyah
    • October 25th, 2010

    thanks ya,,,berkat info dr km aq bisa ngerjain tugas..
    kalo blh tau ini dina alumni smansa Subang bkn??

    • hheeeiiiii,,,
      eaaahhhh,,,
      aquwh dina c ndud,,, hihi :P
      kamu kul dmn skrag yah??

  2. tulisannya bagus,, bisa dijadikan referensi
    thank for kepeduliannya terhadap masyarakat subang y..
    salam intelektual muda

    • Nita Mardiana
    • February 26th, 2011

    dina thanks bgt yauw buat info’y,,
    aq sndiri nak subang baru tau low daerah pagaden ternyata da jg tempat prostitusi,, setau saya sebelum baca artikel nie subang hanya punya pantura sebagai tempat prostitusi,,

    • heuheu,
      dina jg sma kayak kmu seblumx,,
      tp karena dina pnya temen2 yg suka observasi,maka dina tau tempat2 seperti itu,,
      ya amppuun,kalo kmu mw meneliti lgsung pasti bakalan tercengang,,gmna gag,, sore hari ajja mereka (wts/psk) dah memamerkan paha2 mreka ..
      sangad ironis skali kan,,

        • bulan
        • August 18th, 2011

        baru tau euy infona..kaget juga bacana…antara percaya dan tidak percaya klo kota kelahiran sendiri ternyata seperti ini….ya Allah….

    • fitri
    • May 9th, 2012

    subhanallah sekali ea…. apakah dengan adany mereka membantu pendapatan asli daerah d kab subang yg PADny sangat kecil???????

    • hehehehe,,
      bukan subhanalloh tauukk,, tp astagfirullahhaladzimm,, :D

    • ian
    • May 9th, 2012

    subhanallah sekali ea…. apakah dengan adany mereka membantu pendapatan asli daerah d kab subang yg PADny sangat kecil???????

    • ian
    • May 9th, 2012

    pengen tau lebih dalam tentang permasalaan” yang da di kab. subang??
    tau bagian apa n dinas apa yang mengurus pendapatan asli daerah (PAD) ga??
    minta bantuannya ea…..
    mksh

    • hehehe,, aku jugak gag terlalu tauk,,
      tp boleh tuh kamu nanya k BPD subang,, :D

    • qadri aja
    • June 10th, 2012

    dina alamat fb mu apa…

  3. Mudah2an sekarang berkurang, karena daerah subang sudah banyak pabrik2 sehingga mereka mau menjadi karyawan dari pada menjadi kupu2
    salam

    • iyah mudah2an deh,,
      tp ga menutup kemungkinan klo prostitusi itu masih ada :)

    • andri
    • July 5th, 2012

    ikut nimbrung nih,..

    Ketika subang utara (Pagaden s.d Indramayu)sudah marak dengan prostitusi, subang selatan sebagian kecil disalah satu desa tenjolaut kec. kalijati hampir sebagian penduduknya yang perempuan pergi ke berbagai kota menjadi pelacur.
    Namun setelah tahun 2010 sekarang sudah berkurang drastis, dikarenakan subang selatan dari desa dawuan sampai cipeundeuy sudah jadi kawasan industri. Mereka beralih profesi menjadi buruh pabrik garment khususnya. Industri membuka lowongan diprioritaskan kaum perempuan.banyak tenaga kerja wanita terserap didalamnya.
    kerugian dari kawasan industri yang saya rasakan didesa adalah polusi,pergeseran budaya(Individualis,konsumerisme,sexsbebas).
    Petani susah mencari tenaga kerja karena tenaga kerja terserap
    ke indusrti (Kok jadi melenceng dari makalah sih,..gpp kan?) oh ya gitu aja yah,.

    oh ya,..artikel dinatropika kereeen,.. berwawasan luas loh,…trims

    • andri
    • July 5th, 2012

    ikut nimbrung nih,..

    Ketika subang utara (Pagaden s.d Indramayu)sudah marak dengan prostitusi, subang selatan sebagian kecil disalah satu desa tenjolaut kec. kalijati hampir sebagian penduduknya yang perempuan pergi ke berbagai kota menjadi pelacur.
    Namun setelah tahun 2010 sekarang sudah berkurang drastis, dikarenakan subang selatan dari desa dawuan sampai cipeundeuy sudah jadi kawasan industri. Mereka beralih profesi menjadi buruh pabrik garment khususnya. Industri membuka lowongan diprioritaskan kaum perempuan.banyak tenaga kerja wanita terserap didalamnya.
    kerugian dari kawasan industri yang saya rasakan didesa adalah polusi,pergeseran budaya(Individualis,konsumerisme,sexsbebas).
    Petani susah mencari tenaga kerja karena tenaga kerja terserap
    ke indusrti. karena perputaran uang cepat kejahatan meningkat drastis
    (Kok jadi melenceng dari makalah sih,..gpp kan?) oh ya gitu aja yah,.

    oh ya,..artikel dinatropika kereeen,.. berwawasan luas loh,…trims

    • hehehehe,,
      iah gpp,, kan ne blog tempat untuk share,, :D
      iah sih emang udah banyak pabrik,,
      tp tauk juga gag akibat buruk dari pendirian pabrik tersebut? hmmm,,kamu juga udah bilang salah satu akibat buruknya,,
      oke deh nanti kita bisa share2 lg tentang topik yg ini kalo banyak waktu
      hehehe

      tp makasii lo udah read n analisis d postingan ini,,
      makasi banyakk,,
      hatur nuhun pisan :)

    • felisia
    • September 29th, 2012

    Hi…saya minat banget mengetahui seluk beluk subang. Kebetulan sedang mengadakan penelitian juga. Boleh tau gak, kalau di Kec. Cobogo, daerah sadawarna itu apakah prostitusinya merajalela juga? Lalu karakter dari masyarakat subang sendiri seperti apa? Apakah seperti orang sunda pada umumnya yg agamis atau bagaimana? mohon penjelasan..terima kasih..

    • thalia
    • February 8th, 2013

    Bagus juga makalah nya,saya juga pernah tinnggal di kota subang yang penuh kenangan,tapi menyisakan luka buat mama saya tentu nya,tapi apa boleh buat lah Life Must Go On

    • wow,, it’s really nice to hear that,, ternyata pernah tinggal di subang juga,, :)
      hohoho,,apapun masalahnya yg penting jng diungkit2 lagi ajaa,, yes that’s right,,life must go on ;)

  4. teh, abdi orang subang daerah cikaum-purwadadi,
    abdi hoyong penelitian di desa saradan tentang PSK. wios nyuhunken nomerna teteh ??

  5. artikelnya sangat berbobot dan disertai fakta yang akurat.. terima kasih telah berbagi

    • amy
    • July 27th, 2013

    Dina lam kenl ya,

  6. artikelnya menarik :) (Y)

  7. artikelnya sangat menarik iki :D (Y)

  8. heeeeiii…
    punten atuh yah baru dibales,,baru buka lagi ini blog,,hehe
    oia,, coba kirim email k sayah yah di:
    dina.imperialkingdom@gmail.com

    privasi sih,,jdi cpnya dikirim lewat email yah saii :)

    • khodijah nazwa
    • June 18th, 2013

    ok teh… ;)

    • khodijah nazwa
    • September 24th, 2013

    udh di kirim teh,, tlg d blz nya… di antos pisan ;)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,092 other followers

%d bloggers like this: