Tradisi Khas Kampung Kuta – Ciamis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fungsi kebudayaan pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi, pemersatu, dan jatidiri. Oleh karena itu, kebudayaan menjadi acuan atau pedoman bagi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan antarsesama warga masyarakat sehingga akan berpengaruh terhadap pengetahuan, pembentukan sikap, kepercayaan, dan perilaku anggota masyarakat yang bersangkutan.
Pada masa sekarang, ketika kontak budaya semakin meningkat dan intensif, banyak sekali terjadi pergeseran dan perubahan dalam kehidupan masyarakat, terutama tampak sekali pada sikap dan perilaku di kalangan generasi muda. Perhatian khusus bagi generasi muda merupakan hal yang menarik karena mereka adalah penerus dan pendukung kebudayaan yang ada sekarang ini.
Perubahan pandangan, pengetahuan, sikap, dan tingkah laku pada diri mereka akan berdampak besar terhadap corak dan nuansa kebudayaan di masa depan. Padahal di sisi lain, mereka itu sangat mudah dipengaruhi oleh unsur kebudayaan baru/asing di luar kebudayaan yang dikenalnya. Oleh karena itu, dirasa perlu untuk melakukan suatu tindakan, utamanya dalam bentuk kampanye/pengenalan, supaya mereka mengenal kebudayaan yang hidup dan berkembang di lingkungannya. Pengenalan tersebut pada gilirannya akan bermuara pada upaya untuk mencintai kebudayaan sendiri, sehingga kebudayaan yang ditumbuhkembangkan tidak lepas dari akarnya.
Sebagai upaya agar memiliki keinginan dan bisa memahami perbedaan budaya, mereka harus diperkenalkan pada aspek-aspek kebudayaan dari luar lingkup kebudayaannya sendiri. Upaya tersebut diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit dan meningkatkan pemahaman bahwa budaya yang ditumbuhkembangkan masing-masing etnik merupakan jatidiri etnik yang bersangkutan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Tradisi Khas Kampung Kuta jika Dihubungkan dengan Wujud Kebudayaan?
2. Bagaimana Tradisi Khas Kampung Kuta jika Dihubungkan dengan Orientasi Nilai Budaya?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas akhir makalah mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar.
2. Untuk mengetahui tradisi khas dan kebudayaan Kampung Kuta – Ciamis.

D. Metodologi
Dalam penulisan karya tulis ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi melalui :
• Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui studi literature, internet, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.

E. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penulisan ini, maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan sistematika penulisannya agar lebih mudah dipahami dalam memecahkan masalah yang ada, di dalam penulisan ini dibagi dalam 4 (empat) bab yang terdiri dari:
Bab I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistimatika penulisan.
Bab II : Bab ini merupakan bab yang berisi tentang gambaran umum dan penyajian data mengenai Kampung Kuta.
Bab III : Bab ini merupakan bab yang memuat analisis terhadap rumusan masalah yang ada.
Bab IV : Bab ini merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran.

BAB II
GAMBARAN UMUM DAN PENYAJIAN DATA

A. Gambaran Umum
Kampung Kuta secara administratif berada di bawah pemerintahan Desa Karangpaningal Kecamatan Tambak Sari Kabupaten Ciamis. Kampung Kuta terdiri atas 2 RW dan 4 RT. Kampung ini berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan di sebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijolang yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.
Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara dan dapat dicapai dengan menggunakan mobil angkutan umum ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok, dan tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan umum atau ojeg dengan kondisi jalan serupa.
Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung adat, karena mempunyai kesamaan dalam bentuk dan bahan fisik bangunan rumah, adanya ketua adat, dan adanya adat istiadat yang mengikat masyarakatnya. Bentuk rumahnya masih memakai atap jure yang terbuat dari daun kirai. Tiang rumahnya didirikan di atas alas batu yang disebut tatapakan sehingga merupakan bentuk rumah panggung sedang dindingnya terbuat dari bilik atau papan.
Masyarakat Kampung Kuta merupakan masyarakat adat yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisi dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Penduduk Kampung Kuta merupakan pemeluk agama Islam yang taat, akan tetapi dalam kehidupan sehari-harinya diwarnai oleh kepercayaan-kepercayaan bersifat mitos dan animisme. Kepercayaan terhadap tabu dan adanya mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak pada pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa hutan keramat. Hutan keramat tersebut sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Hanya saja, di hutan keramat tersebut tidak boleh meminta sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan.
Untuk memasuki wilayah hutan keramat tersebut diberlakukan sejumlah tabu, yakni tabu memanfaatkan dan merusak sumber hutan, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh.
Tabu-tabu lain yang berlaku di luar wilayah hutan keramat tapi masih termasuk wilayah Kampung Kuta pun wajib dipatuhi, seperti tabu membangun rumah dengan atap genting, tabu mengubur jenazah di Kampung Kuta, tabu memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan seperti membangun rumah dari tembok, tabu mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang.
Tabu-tabu tersebut, akan menyebabkan celaka bagi mereka yang melanggarnya. Norma adat dan agama memiliki intensitas dan “kekuatan” yang seimbang sebagai pedoman dalam melangsungkan kehidupan secara keseluruhan.

B. Penyajian Data
B.1. Sejarah Kampung Kuta
Kampung yang terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, berbatasan dengan Jawa Tengah itu dikenal sebagai Kampung adat. Ada beberapa versi mengenai sejarah Kampung Kuta ini. Menurut cerita rakyat setempat, asal-usul Kampung Kuta berkaitan dengan berdirinya Kerajaan Galuh. Konon, pada zaman dahulu ketika Prabu Galuh yang bernama Ajar Sukaresi (dalam sumber lain, tokoh ini adalah seorang pandita sakti) hendak mendirikan Kerajaan Galuh, Kampung Kuta dipilih untuk pusat kerajaan karena letaknya strategis.
Prabu Galuh memerintahkan kepada semua rakyatnya untuk mengumpulkan semua keperluan pembangunan keraton seperti kapur bahan bangunan, semen merah dari tanah yang dibakar, pandai besi, dan tukang penyepuh perabot atau benda pusaka. Keraton pun akhirnya selesai dibuat. Namun, pada suatu ketika, Prabu Galuh menemukan lembah yang (Kuta) oleh tebing yang dalamnya sekitar 75 m di lokasi pembangunan pusat kerajaan itu. Atas musyawarah dengan para punggawa kerajaan lainnya, diputuskanlah bahwa daerah tersebut tidak cocok untuk dijadikan pusat kerajaan (menurut orang tua, “tidak memenuhi Patang Ewu Domas”).
Selanjutnya, mereka berkelana mencari tempat lain yang memenuhi syarat. Prabu Galuh membawa sekepal tanah dari bekas keratonnya di Kuta sebagai kenang-kenangan. Setelah melakukan perjalanan beberapa hari, Prabu Galuh dan rombongannya sampai di suatu tempat yang tinggi, lalu melihat-lihat ke sekeliling tempat itu untuk meneliti apakah ada tempat yang cocok untuk membangun kerajaannya. Tempat ia melihat-lihat itu sekarang bernama
Tenjolaya.
Prabu Galuh melihat ke arah barat, lalu terlihatlah ada daerah luas terhampar berupa hutan rimba yang menghijau. Ia kemudian melemparkan sekepal tanah yang dibawanya dari Kuta ke arah barat dan jatuh di suatu tempat yang sekarang bernama “Kepel”. Tanah yang dilemparkan tadi sekarang menjadi sebidang sawah yang datar dan tanahnya berwarna hitam seperti dengan tanah di Kuta, sedangkan tanah di sekitarnya berwarna merah. Prabu Galuh melanjutkan perjalanannya sampai di suatu pedataran yang subur di tepi Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy, lalu mendirikan kerajaan di sana .
Cerita selanjutnya tentang Prabu Galuh tersebut hampir mirip dengan cerita Ciung Wanara dalam naskah Wawacan Sajarah Galuh, bahwa Prabu Galuh kemudian digantikan oleh patihnya, Aria Kebondan (dalam naskah disebut Ki Bondan). Prabu Galuh menjadi pertapa di Gunung Padang. Menurut versi tradisi lisan, Prabu Galuh meninggalkan dua orang istri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Saat itu, Dewi Naganingrum sedang mengandung. Ketika Dewi Naganingrum melahirkan, Dewi Pangrenyep menukar bayinya dengan seekor anak anjing. Bayi itu kemudian dihanyutkan ke Sungai Citanduy.
Melihat Dewi Naganingrum beranak seekor anjing, Aria Kebondan yang menjadi raja di Galuh menjadi marah, lalu menyuruh Lengser membunuhnya. Namun, Lengser itu tidak membunuh Dewi Naganingrum, tetapi menyembunyikannya di Kuta. Adapun bayi yang dibuang ke Sungai Citanduy itu kemudian ditemukan oleh Aki Bagalantrang di depan badodon (tempat menangkap ikan)-nya. Bayi itu dipungut dan diasuh oleh Aki Bagalantrang hingga remaja, lalu diberi nama Ciung Wanara.
Tempat Aki Bagalantrang mengasuh bayi itu sekarang disebut daerah “Geger Sunten”, sekitar 6 km dari Kuta. Ciung Wanara kemudian merebut kembali Kerajaan Galuh dari Aria Kebondan melalui sabung ayam, sebagaimana yang diceritakan dalam naskah. Setelah Ciung Wanara menjadi raja, Lengser pun menjemput Dewi Naganingrum sehingga bisa berkumpul kembali dengan anaknya. Kampung Kuta terdapat mitos tentang Tuan Batasela dan Aki Bumi.
Diceritakan bahwa bekas kampung Galuh yang telah diterlantarkan selama beberapa lama ternyata menarik perhatian Raja Cirebon dan Raja Solo. Selanjutnya, masing-masing raja tersebut mengirimkan utusannya untuk menyelidiki keadaan di Kampung Kuta. Raja Cirebon mengutus Aki Bumi, adapun Raja Solo mengutus Tuan Batasela.
Raja Cirebon berpesan kepada utusannya bahwa ia harus pergi ke Kuta, tetapi jika didahului oleh utusan dari Solo, ia tidak boleh memaksa jadi penjaga Kuta. Ia harus mengundurkan diri, tetapi tidak boleh pulang ke Cirebon dan harus terus berdiam di sekitar daerah itu sampai mati. Pesan yang sama juga didapat oleh utusan dari Solo. Pergilah kedua utusan tersebut dari kerajaannya masing-masing.
Utusan dari Solo, Tuan Batasela, berjalan melalui Sungai Cijolang sampai di suatu kampung, lalu beristirahat di sana selama satu malam. Jalan yang dilaluinya itu hingga saat ini masih sering dilalui orang untuk menyeberang dari Jawa Tengah ke Jawa Barat. Penyeberangan itu diberi nama “Pongpet”. Adapun Aki Bumi dari Cirebon langsung menuju ke Kampung Kuta dengan melalui jalan curam, yang sampai saat ini masih ada dan diberi nama “Regol”, sehingga tiba lebih dulu di Kampung Kuta.
Sesampainya di sana, Aki Bumi menemui para tetua kampung dan melakukan penertiban- penertiban, seperti membuat jalan ke hutan dan membuat tempat peristirahatan di pinggir situ yang disebut “Pamarakan”. Karena telah didahului oleh utusan dari Cirebon, Tuan Batasela kemudian terus bermukim di kampung tempat ia bermalam, yang terletak di utara Kampung Kuta.
Konon, utusan dari Solo itu kekurangan makanan, lalu meminta-minta kepada masyarakat di Kampung itu, tetapi tidak ada yang mau memberi. Keluarlah umpatan dan sumpah dari Tuan Batasela yang mengatakan bahwa “Di kemudian hari, tidak akan ada orang yang kaya di Kampung itu.” Ternyata, hingga saat ini rakyat di kampung itu memang tidak ada yang kaya. Karena menderita terus, Tuan Batasela kemudian bunuh diri dengan keris.
Darah yang keluar dari luka Tuan Batasela berwarna putih, lalu mengalir membentuk parit yang kemudian disebut “Cibodas”. Kampung itu pun diberi nama Kampung Cibodas. Tuan Batasela dimakamkan di tengah- tengah persawahan di sebelah utara Kampung Cibodas. Makamnya masih ada hingga saat ini. Aki Bumi terus menjadi penjaga (kuncen) Kampung Kuta sampai meninggal, lalu dimakamkan bersama keluarganya di tengah-tengah Kampung, yang sekarang termasuk Kampung Margamulya. Tempat makam itu disebut “Pemakaman Aki Bumi”. Setelah keturunan Aki Bumi tidak ada lagi, Raja Cirebon memerintahkan bahwa yang menjadi kuncen di Kampung Kuta berikutnya adalah orang-orang yang dipercayai oleh Aki Bumi, yaitu para leluhur kuncen Kampung Kuta saat ini.
Mitos-mitos yang dituturkan oleh tradisi lisan terkadang mempunyai keterkaitan dengan mitos yang diceritakan dalam sumber naskah. Keterkaitan itu kemudian menimbulkan pertanyaan bagi kita, apakah si penutur mitos yang bersumber pada naskah atau naskah yang ditulis berdasarkan penuturan. Jika dirujuk pada usianya, maka tradisi lisan telah ada sebelum tulisan muncul sehingga dapat diasumsikan bahwa naskah ditulis berdasarkan cerita yang dituturkan.
Tradisi lisan yang terus ada hingga saat ini, seperti yang dituturkan oleh para kuncen atau tukang cerita, terdapat dua kemungkinan mengenai asal-usulnya. Pertama, tradisi lisan itu berdasarkan cerita naskah yang dibaca kemudian dituturkan kembali. Kedua, tradisi lisan itu memang belum pernah dituliskan dalam bentuk naskah, lalu dituturkan secara turun-temurun. Adanya perbedaan versi suatu cerita yang dituturkan dalam naskah dan tradisi lisan disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu perbedaan sumber cerita, distorsi cerita karena pewarisan cerita yang turun-temurun memungkinkan terjadinya penambahan ataupun pengurangan isi cerita, dan adanya keinginan dari penutur cerita untuk mengedepankan peranan seorang tokoh ataupun berapologia atas kesalahan tokoh tersebut.
Demikian pula dengan cerita tentang Kampung Kuta di atas. Ada beberapa bagian yang hampir mirip dengan cerita yang dikemukakan dalam naskah dan ada pula yang berbeda jalan ceritanya. Adapun mengenai kebenaran isi cerita atau mitos tersebut bukanlah suatu permasalahan. Setidaknya, mitos-mitos tersebut dihormati dan dipelihara oleh masyarakatnya. Lebih jauh, bukankah ilmu pengetahuan juga pada awalnya berkembang dari bentuk pemikiran mistis.
B.2. Larangan-larangan dan Tradisi Adat yang Masih Dipertahankann.
Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung adat, karena mempunyai kesamaan dalam bentuk dan bahan fisik bangunan rumah, adanya ketua adat, dan adanya adat istiadat yang mengikat masyarakatnya. Salah satu warisan ajaran leluhur yang mesti dipatuhi masyarakat Kuta adalah pembangunan rumah. Bila dilanggar, warga Kuta berkeyakinan, musibah atau marabahaya bakal melanda kampung mereka. Aturan adat menyebutkan rumah harus berbentuk panggung dengan ukuran persegi panjang. Atap rumah pun harus dari bahan rumbia atau ijuk.
Kampung Kuta merupakan masyarakat adat yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisi dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Kepercayaan terhadap larangan dan adanya mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak pada pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa hutan keramat. Hutan keramat tersebut sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Hanya saja, di hutan keramat tersebut tidak boleh meminta sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan.
Untuk memasuki wilayah hutan keramat tersebut diberlakukan sejumlah larangan, yakni larangan memanfaatkan dan merusak sumber hutan, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh. Bahkan untuk memasuki Hutan Keramat ini pun tidak boleh memakai alas kaki, Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka.
Masyarakat Kampung Kuta mengenal hutan karamat. Dipandang dari sudut etimologis, Kampung Kuta berarti kampung atau dusun yang dikelilingi “kuta” atau penghalang berupa tebing. Menurut cerita yang beredar pada masyarakat setempat, dahulu kala tebing itu berfungsi sebagai penghalang serangan musuh dari luar, ketika Kampung Kuta akan dijadikan sebuah kerajaan oleh Prabu Ajar Sukaresi. Kisah tentang sepak terjang sang Prabu yang menjadi penguasa di Kampung Kuta sangat berpengaruh kepada warganya di kemudian hari.
Sikap sang Prabu yang peduli pada lingkungan itu diteruskan kemudian oleh Ki Bumi yaitu seorang utusan Kerajaan Cirebon yang ditugaskan untuk membantu masyarakat Kampung Kuta menjaga wilayah peninggalan Prabu Ajar Sukaresi. Konon, semula Prabu Ajar Sukaresi bermaksud membangun istana di wilayah tersebut, akan tetapi batal karena lokasi yang ditetapkan berada di tengah-tengah perbukitan. Sementara itu bahan-bahan material yang berupa kayu, semen, batu dan bata bahkan besi sudah terkumpul hingga akhirnya tertimbun tanah dan berubah menjadi sebuah bukit kecil. Kini lokasi tersebut berubah menjadi hutan yang dipercaya warga setempat sangat keramat.
Kawasan hutan keramat boleh dikunjungi oleh orang-orang yang bermaksud mencapai keselamatan, ketenangan hati, kehamonisan rumah tangga, selain meminta harta kekayaan atau maksud-maksud lain dengan meminta bantuan “kuncen” sebagai pemangku adat yang dipercaya mampu berhubungan dengan leluhur yang tinggal di hutan keramat. Kuncen dianggap sebagai penjaga hutan keramat, dan dapat menjadi penghubung antara penunggu hutan keramat dengan orang-orang yang mempunyai maksud. Di wilayah hutan itu ditabukan untuk menyelenggarakan kegiatan duniawi dan dilarang untuk memanfaatkan segala sumber daya dari hutan. Segala sesuatu dibiarkan secara alami, masyarakat dilarang menebang pohon bahkan memungut ranting pun tidak diperkenankan. Jika melanggar tabu atau larangan itu, maka orang tersebut akan mendapatkan sanksi berupa malapetaka.
Larangan-larangan lain yang berlaku di luar wilayah hutan keramat tapi masih termasuk wilayah Kampung Kuta pun wajib dipatuhi, seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, larangan mengubur jenazah di Kampung Kuta, larangan memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, larangan mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang. Larangan-larangan tersebut apabila dilanggar diyakini oleh masyarakat akan menyebabkan celaka bagi mereka yang melanggarnya. Norma adat dan agama memiliki intensitas dan “kekuatan” yang seimbang sebagai pedoman dalam melangsungkan kehidupan secara keseluruhan.
Keunikan lainnya, warga Kampung Kuta sangat dilarang membuat sumur. Air untuk keperluan sehari-hari harus diambil dari mata air. Larangan para leluhur mungkin ada benarnya. Ini lantaran kondisi tanah yang labil di kampung ini dikhawatirkan dapat merusak kontur tanah. Terutama membuat sumur dengan cara menggali atau mengebor tanah.
Kedekatan masyarakat kampung adat dengan alam tidak hanya itu saja setiap tahunnya masyarakat kampung Kuta mengadakan Upacara Adat nyuguh. Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu upacara ritual tradisional Adat Kampung Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya. Upacara ini bertujuan sebagai persembahan bentuk syukur kepada Tuhan dan bumi yang telah memberikan pangan bagi masyarakat kampung Kuta.
Kampung adat ini dihuni masyarakat yang hidup dilandasi kearifan lokal. Dengan memegang teguh budaya, pelestarian lingkungan di kampung ini bisa menjadi contoh bagi kita semua untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan berpegang teguh kepada budaya lokal.

BAB III
ANALISIS

A. Tradisi Khas yang Dihubungkan dengan Wujud Kebudayaan
Beberapa ilmuwan seperti Talcott Parson (Sosiolog) dan Al Kroeber (Antropolog) menganjurkan untuk membedakan wujud kebudayaan secara tajam sebagai suatu sistem. Dimana wujud kebudayaan itu adalah sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola.
Demikian pula J.J. Honigmann dalam bukunya The Worl of Man (1959) membagi budaya dalam tiga wujud, yaitu: ideas, activities, and artifact. Sejalan dengan pikiran para ahli tersebut, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan itu dibagi atau digolongkan dalam tiga wujud, yaitu:
1) Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan.
2) Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3) Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Pembahasan ini akan menjelaskan tentang wujud kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat jika dikaitkan dengan tradisi khas dan budaya Kampung Adat Kuta. Wujud kebudayaan yang pertama adalah ide atau gagasan. Contoh dari wujud kebudayaan sebagai suatu ide atau gagasan di Kampung Kuta adalah Upacara Adat Nyuguh dan Larangan-larangan.
Salah satu bentuk ide atau gagasan itu adalah larangan dalam pembangunan rumah yang mensyaratkan tidak boleh menggunakan bahan semen, melainkan hanya memakai bahan dari kayu dan bambu. Ide/gagasannya yaitu bahwa model bangunan seperti itu dapat melindungi penghuninya dari berbagai macam gangguan, seperti binatang buas. Juga alasan lainnya jika dilihat dari bentuknya yaitu rumah panggung yang terbuat dari bambu dan kayu itu tahan dari guncangan gempa. Apalagi, belakangan ini, sejumlah daerah di Tanah Air kerap dilanda gempa tektonik maupun vulkanik.
Wujud kebudayaan lainnya yakni praktik atau tingkah laku. Hal-hal yang berkaitan dengan wujud kebudayaan tersebut adalah tidak membangun rumah dengan atap genting, tidak mengubur jenazah di Kampung Kuta, tidak memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, tidak mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, dan tidak membuat sumur. Adapula contoh dari wujud kebudayaan yang kedua ini adalah sistem pengobatan tradisionalnya yang menggunakan bahan-bahan alami yang terdapat di kampungnya.
Wujud kebudayaan yang ketiga adalah materi atau produk budaya. Wujud yang terakhir ini disebut pula kebudayaan fisik. Diman wujud budaya ini hampir seluruhnya merupakan hasill fisik (aktivitas perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat). Sifatnya paling konkrit dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto yang berwujud besar ataupun kecil. Di dalam Kampung Kuta terdapat produk budaya seperti Saung Lisung atau Leuit, Bale Adat, dan Rumah Panggung.
Fungsi dari Saung Lisung atau Leuit adalah untuk menyimpan padi hasil dari masyarakat memanen padi di sawah. Sedangkan fungsi dari Bale Adat adalah tempat berkumpulnya ketua adat dan masyarakat dalam memusyawarahkan masalah yang ada. Dan rumah panggung adalah sebagai tempat tinggal masyarakat Kampung Kuta yang juga berfungsi untuk menahan dari gempa dan serangan makhluk buas.

B. Tradisi Khas yang Dihubungkan dengan Nilai Orientasi Budaya
Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat. Karena itu, sesuatu dikatakan memiliki nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetika), baik (nilai-moral atau etis), religius (nilai agama).
C. Kluchohn mengemukakan, bahwa yang menentukan orientasi nilai budaya manusia di dunia adalah lima dasar yang bersifat universal, yaitu:
a) Hakikat hidup manusia (MH)
b) Hakikat karya manusia (MK)
c) Hakikat waktu manusia (MW)
d) Hakikat alam manusia (MA)
e) Hakikat hubungan antarmanusia (MM)
Dalam pembahasan ini penulis akan membahas tradisi khas dan kebudayaan yang berada di Kampung Kuta bila dihubungkan dengan orientasi nilai budaya.
Pertama, tradisi khas yang dikaitkan dengan hakikat hidup manusia di Kampung Kuta adalah corak kehidupan masyarakat. Manusia dalam kehidupannya memiliki tiga fungsi, sebagai makhluk Tuhan, individu, dan sosial budaya. Hal tersebut saling berkaitan dimana kepada Tuhan memiliki kewajiban untuk mengabdi pada Tuhan, sebagai individu harus memenuhi segala kebutuhan pribadinya dan sebagai makhluk sosial-budaya harus hidup berdampingan dengan orang lain dalam kehidupan yang selaras dan saling membantu.
Sebagai makhluk sosial, manusia akan hidup bersama dengan manusia lain yang akan melahirkan suatu bentuk kebudayaan. Karena kebudayaan itu sendiri diperoleh manusia dari proses belajar pada lingkungan juga hasil pengamatan langsung. Maka dari itu, corak hidup masyarakat Kampung Kuta yaitu selalu berkembang dan beradaptasi dengan alam. Proses pembelajaran dan makna hidup mereka dapatkan setelah mereka hidup selama bertahun-tahun di lingkungan Kampung Kuta.
Kedua, tradisi khas yang dikaitkan dengan hakikat karya manusia adalah apa yang bisa dihasilkan oleh masyarakat Kampung Kuta. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat pasti akan membuahkan hasil dan mempunyai makna tersendiri. Masyarakat dituntut untuk berbuat sesuatu yang bisa menyokong kehidupan mereka. Tradisi khas yang sering dilakukan oleh masyarakat Kampung Kuta adalah kesenian Gondang, Gembyong, dan Ronggeng Kaler. Adapun dalam sistem pengetahuannya yaitu dalam sistem pengobatan tradisional dan sistem teknologi tradisionalnya berupa teknik pembuatan gula aren.
Ketiga, tradisi khas yang dikaitkan dengan hakikat waktu manusia adalah kegiatan sehari-hari masyarakat Kampung Kuta. Dikarenakan letak geografis Kampung Kuta yang jaraknya jauh dari perkotaan dan dikelilingi oleh hutan atau bukit, maka kegiatan sehari-hari masyarakat Kampung Kuta adalah kegiatan yang dilakukan di lingkungannya saja. Mayoritas pekerjaan masyarakat Kampung Kuta adalah bertani, adapula pekerjaan sampingannya yaitu beternak.
Di saat pagi hari, masyarakat Kampung Kuta sudah terbiasa untuk melakukan aktivitasnya di sawah sampai sore hari. Dilanjutkan dengan kegiatan mereka yang mempunyai hewan ternak seperti sapi atau lahan untuk ternak ikan untuk memberi makan hewan ternak mereka. Adapun pekerjaan masyarakat Kampung Kuta yang menjadi ciri khas mereka adalah pembuatan gula aren.
Biasanya masyarakat Kampung Kuta memulai aktivitas membuat gula aren pada malam hari. Hal ini disebabkan karena pekerjaan bertani mereka harus dilaksanakan sampai sore dan jika ada waktu, mereka akan pergi ke kebun atau sekeliling bukit untuk mengambil aren sebagai bahan dasar pembuatan gula aren. Jadi pada hakikatnya, waktu adalah hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, tradisi khas yang dikaitkan dengan hakikat alam manusia adalah sifat alamiah manusia yang melekat pada masyarakat Kampung Kuta. Sifat alamiah masyarakat Kampung Kuta adalah bekerja keras dan religius. Hal ini disebabkan karena sejarah Kampung Kuta sendiri yang membentuk kepribadian masyarakatnya.
Hal tersebut juga bisa dikaitkan dengan hubungan manusia dengan alam. Pada dasarnya, alam dan manusia selalu memiliki keharmonisasian dalam kehidupannya. Alam merupakan kawan dan tempat tinggal yang sakral bagi masyarakat setempat, hal ini disebabkan karena bagi mereka alam adalah tempat penghidupan yang harus dijaga kelestariannya.
Kelima, tradisi khas yang dikaitkan dengan hakikat hubungan antar manusia adalah rasa kekerabatan dan gotong royong sesama manusia yang sudah terjalin sejak lama di masyarakat Kampung Kuta. Misalkan saja dalam kegiatan Upacara Adat Nyuguh yang tujuannya yaitu untuk mengungkapkan rasa sukur atas nikmat pangan yang diberi kepada masyarakat. Semua warga ikut serta dalam pelaksanaan Upacara Adat Nyuguh, baik sebelum dilaksanakannya upacara ataupun sesudahnya.
Hubungan antar manusia pada hakikatnya yaitu untuk menjalin rasa kekeluargaan karena mereka semua merasa saling memiliki terhadap Kampung Kuta tempat mereka tinggal. Semua warga berkeyakinan bahwa yang menjaga dan melestarikan adat serta budaya mereka adalah warga masyarakat Kampung Kuta sendiri. Sehingga, hubungan antar manusia itu patut dijaga dan tidak boleh putus.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Fungsi kebudayaan pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi, pemersatu, dan jatidiri. Oleh karena itu, kebudayaan menjadi acuan atau pedoman bagi sikap dan tingkah laku dalam pergaulan antarsesama warga masyarakat sehingga akan berpengaruh terhadap pengetahuan, pembentukan sikap, kepercayaan, dan perilaku anggota masyarakat yang bersangkutan.
Tradisi dan kebudayaan masyarakat Kampung Kuta-Ciamis hingga saat ini masih dipertahankan. Masyarakat Kampung Kuta masih memegang teguh kebudayaan leluhurnya sehingga tradisi adatnya tetap lestari. Tradisi khas Kampung Kuta bila dikaitkan dengan orientasi nilai budaya adalah terlihat pada hakikat hidup manusia, hakikat karya manusia, hakikat waktu manusia, hakikat alam manusia, dan hakikat hubungan antarmanusia dalam lingkungan Kampung Kuta.
Pada dasarnya, masyarakatnya Kampung Kuta sangat percaya sekali dengan alam. Menurut mereka, alam adalah tempat penghidupan yang patut dijaga kelestariannya. Sehingga hal ini dapat berdampak positif pada kekerabatan dan rasa kekeluargaan yang mereka pupuk sedari lahir.
Larangan-larangan yang berlaku di Kampung Kuta pun wajib dipatuhi, seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, larangan mengubur jenazah di Kampung Kuta, larangan memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, larangan mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang. Larangan-larangan tersebut apabila dilanggar diyakini oleh masyarakat akan menyebabkan celaka bagi mereka yang melanggarnya. Norma adat dan agama memiliki intensitas dan “kekuatan” yang seimbang sebagai pedoman dalam melangsungkan kehidupan secara keseluruhan.

B. SARAN
Sebaiknya masyarakat Kampung Kuta bisa menyerap dengan baik budaya luar yang datang ke Kampung Kuta. Tidak hanya budayanya saja, tetapi juga bisa membatasi para tamu yang datang agar tidak merusak alam dan budaya yang ada. Budaya dan tradisi yang telah ada semoga saja tidak akan luntur dengan berkembangnya zaman dan teknologi.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. 2006. Panduan Lawatan Budaya Kampung Kuta-Ciamis. Bandung: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata & BKSNT Bandung.
Setiadi, Elly M, Hakam, Kama A, dkk. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.

About these ads
  1. hy nenk..

    • eh ada teh widi sang senior saiaahh..
      heuheu… ^^
      akhirnya ada juga teman sekampuz yg suka eksis d blog..
      hihi :P

    • R.Royanie Abdurrachman
    • October 3rd, 2012

    Nuhun teh Abdi tos ngaos asrtikel Teteh mudah2an ageung Manfaatna.
    R.Royanie bdurrachman
    Mhs.Pascasarjana Prodi Manajemen Lingkungan UNJ

    • muhun sami2,,
      dina mah mkin seneng kalo postingan dina bermanfaat buat orang lain :D
      kebetulan dulu waktu SMA pernah ikutan lawatan budaya di kampung kuta,jdi sekalian aja kasih informasi disini :)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,093 other followers

%d bloggers like this: